Djuwari: Pesan Jenderal Soedirman, Hidup harus Rukun!

Djuwari memanggul Jenderal Soedirman bergerilya menyusuri hutan melawan penjajah pasca kemerdekaan RI.

Pekanbaru, Indonesia–“Pak Dirman pesen, urip kuwi kudu seng rukun, karo tonggo teparo, sak desa kudu rukun kabeh (Pak Dirman berpesan, hidup itu harus pada rukun, dengan tetangga, seluruh desa juga harus rukun semua).”

Itulah pesan yang disampaikan oleh Jenderal Besar Soedirman, beberapa waktu sebelum Pahlawan Nasional itu menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 34 tahun.

Sebagaimana dilansir panjimas.com, ucapan itu disampaikan langsung kepada Djuwari, salah seorang yang selalu setia memanggul Jenderal Soedirman dari satu hutan ke hutan lainnya, di masa perang gerilya.

Dalam melakoni “perjalanan dinas” memanggul Jenderal Soedirman, Djuwari memang tidak pernah berpikir untuk mendapatkan imbalan. Bahkan dia sudah sangat senang diberi “upah” sepotong kain panjang dari Jenderal Sudirman, ketika itu.

Tak cukup sampai di situ, suami almarhumah Saminah, itu bercerita, saat itu istrinya amat senang menerima kain panjang (jarit) pemberian Sang Jendral tadi. Karena seringnya dipakai, jarit pemberian Sang Jenderal pun menjadi rusak.

Putera Kastawi dan Kainem itu menuturkan, memanggul tandu Pak Dirman (sapaan akrab kepada Sang Jenderal) baginya merupakan kebanggaan luar biasa. Dia tidak meminta sebutan veteran ataupun penghargaan lain dari negara. Kakek yang memiliki tiga cicit itu mengaku, memanggul tandu jenderal merupakan pengabdian. Semua dilakukan dengan rasa ikhlas tanpa berharap imbalan apa pun.

Ya, Jenderal Soedirman memang harus ditandu. Karena Panglima Besar itu saat memimpin perang gerilya melawan penjajah, dalam keadaan sakit-sakitan. Jenderal yang lahir pada 24 Januari 1916 itu menderita penyakit tubercolosis (TBC). Namun meski kondisi kesehatan yang kian parah, strategi perang gerilya tetap saja dikendalikan dari atas tandu, dikomandoi Jenderal yang lahir 24 Januari 1916 ini.

Dalam memanggul Soedirman ke Goliman, Djuwari memang tidak sendiri. Ayah dari empat putera dan empat puteri itu menuturkan, mereka ada tujuh orang, menggotong secara bergantian. Antara lain Warso Dauri (kakak kandung), Martoredjo (kakak kandung lain ibu) dan Djoyo, warga Goliman.

Untuk mengantar Jenderal Soedirman perang gerilya, seingat Djuwari, mulai pada pukul 8 pagi. Dikawal banyak pria berseragam. Tugas “perjalanan dinas” yang dilalui Djuwari pun, tak mudah. Menyusuri bukit-bukit dan hutan yang gelap.

Seringkali perjalanan dihentikan untuk sekedar duduk dan beristirahat. Kalau sempat dan ada bekal makanan, mereka akan makan. “Dari Bajulan (Nganjuk), lalu kami kembali ke Goliman. Waktu itu kita diberi jarit dan sarung,” imbuhnya.

Dari empat warga Dusun Goliman yang pernah mamanggul tandu Panglima Besar, hanya Djuwari seorang yang masih hidup. Sedangkan tandu yang dulu dipergunakan untuk memanggul Panglima Sudirman dalam Perang Gerilya mengusir penjajah, itu sekarang tersimpan rapi di Museum Satria Mandala, Jakarta.

Itulah Djuwari, salah seorang pelaku sejarah di masa kehidupan Jenderal Soedirman. Terakhir, pria berusia 83 tahun itu bermukim di kaki Gunung Wilis, Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Seperti diberitakan VocalIslam.com, kediaman Djuwari di kaki Gunung Wilis itu sangat sederhana. Kondisi masyarakat di sana masih tidak jauh-jauh amat dari kemiskinan. Masih banyak rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu atau tepas, berlantaikan tanah.

“Kami hanya berharap, generasi muda saat ini bisa meneruskan cita-cita pahlawan untuk bisa bebas dari segala bentuk penjajahan,” ujar Djuwari sebagaimana dilansir nasional.kompas.com. p-01

793 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia