Gulai Nangka dan Ayam Piaparan “Jembatan Mudik” Dua Negara

Pasangan Carim Jr Panumpang dan Citra Ayu Adhi Nugraha. Foto: BERITAmediacorp.

Singapura-Untuk merayakan Idulfitri kali ini, pasangan suami istri Carim Jr Panumpang asal Tugaya, Lanao Del Sur, Filipina dan Citra Ayu Adhi Nugraha warga Rumbai, Kota Pekanbaru, Indonesia, “mudik” ke kampung halaman masing-masing lewat makanan “ayam piaparan” dan “gulai nangka,” di Singapura.

Dikutip dari laman BERITAmediacorp Singapura, Senin (25/5-2020), pasangan suami isteri tersebut bekerja di Singapura dalam bidang IT (teknokogi informasi) sejak tahun lalu. Dikabarkan, mereka sebenarnya sudah merancang untuk menyambut Lebaran di negara kelahiran masing-masing. Namun apa boleh buat, gara-gara Covid-19, mereka merayakan Hari Raya kali ini di rumah saja, di tempat mereka bekerja, di Singapura.

Sebagaimana laporan BERITAmediacorp, meskipun mereka berada di negeri jiran dalam suasana Lebaran, bukan berarti mereka “terpisah mutlak” dari kampung halaman masing-masing. Dari Singapura tempat mereka bermukim, pasangan ini kemudian “mengimpor’ suasana Hari Raya dari Filipina dan Indonesia.

Dalam menyambut suasana Lebaran, mereka membuat makanan khas masing-masing negara, yakni “ayam piaparan” dan “gulai nangka padang.”

Saat dihubungi BERITAmediacorp, pasangan suami isteri itu menjelaskan bahwa makanan khas masing-masing negara tersebut seolah–olah menggiring mereka berlebaran di negeri masing-masing sekaligus pengobat rasa rindu.

Mirip rendang?

BERITAmediacorp menyebut, menariknya, terdapat “sedikit persamaan” lauk-pauk tersebut dengan tradisi rendang dan lontong di “Singapura.”

Khususnya lauk ayam piaparan, yakni kering tidak berkuah dan bisa dinikmati dengan lontong atau ketupat.

“Kita gunakan santan untuk menggoreng ayam. Rasanya macam rendang, tetapi warnanya kuning,” jelas Ayu tentang rasa ayam piaparan.

Lalu, Carim menimpali: “Jika Anda di Filipina, Anda mungkin akan kerap memakannya karena itu hidangan umum (bagi masyarakat Filipina, red). Jadi, ingin rasa (makanan) seperti di negara sendirilah. Dan Ayu juga masak lontong. Itu hidangan ‘wajib’ pada Hari Raya Idulfitri.”

Makan bersama di tiga negara

Ayu mengaku dirinya merasa agak sedih  karena tidak dapat mengikuti tradisi mudik yang biasa mereka lakukan selama bekerja di perantauan. Sebelumnya, mereka bekerja dan bermukim di Kuala Lumpur, Malaysia.

“Sedih karena tak dapat berkumpul dengan keluarga di Indonesia dan di Filipina. Juga karena kita selalu balik waktu Lebaran. Karena kita tidak begitu sering pulang ke Indonesia ataupun Filipina. Mungkin sekitar 2 kali dalam setahun,” ujar Ayu kepada BERITAmediacorp.

Usai solat Ied (24/5-2020), pasangan itu melakukan satu hal penting untuk mengembalikan suasana Lebaran di kampung.

Mereka makan bersama, bertatap muka lewat dunia maya atau virtual walaupun mereka seluruhnya berada di tiga negara berbeda!

“Sesudah kita melakukan panggilan video dan sarapan dengan keluarga, bisa merasakan apa yang selalu kita lakukan di Indonesia atau pun di Filipina,” sambung Ayu.

Pastinya, rindu yang terpendam di lubuk hati masing-masing bisa terobati setelah melihat senyum dan tawa anggota keluarga tercinta.

“Kita memang bisa menghubungi mereka melalui telepon. Tetapi biasanya kita butuh sentuhan fisik  (bersalaman dan bermaafan),” ujar Carim. BERITAmediacorp/dp-01

300 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia