Kontroversi Bangunan Jembatan Timbang Balai Raja

Jembatan timbang lama dan baru saling bersebelahan, di UPPKB Balai Raja. (Foto: dok dataprosa.com)

Balai Raja, Indonesia-Jembatan timbang kembali aktif serentak di berbagai lokasi di Indonesia, sejak terbitnya Surat Edaran Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat per 10 Mei 2017 lalu.

Di negeri ini, seluruhnya ada 25 Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB), di antaranya yang berlokasi di Kelurahan Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Di UPPKB Balai Raja, pada 2018 lalu di sisi jembatan lama, dibangun jembatan timbang lainnya, yang biayanya bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pada saat itu, Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah Provinsi Riau dan Kepulauan Riau (Kepri), Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kemenhub dijabat Aji Panatagama. Sedangkan Yugo Kristanto selaku Kepala Seksi Lalu Lintas Angkutan Jalan.

Dari penelusuran dataprosa.com dan awak media lainnya, Kamis (20/1-2021) di UPPKB Balai Raja, jembatan timbang yang dibangun itu lebih tinggi dari jembatan lama yang hampir merata dengan jalan. Sebelum kendaraan memasuki dan meninggalkan jembatan timbang yang dibangun 2018, ini ada ruas semenisasi yang menghubungkan jalan dengan posisi jembatan yang lebih tinggi.

Pada Kamis (20/1-2021) itu, dataprosa.com melihat, setiap kali armada angkutan yang masuk ke UPPKB, seluruhnya melewati jembatan timbang lama. Tak satu pun yang melintas di jembatan timbang baru.

Dari pengamatan dataprosa.com, dilihat dari semenisasi yang menghubungkan ruas jalan dengan jembatan itu tampak masih baru, seperti belum digunakan. Di jembatan itu sendiri, terdapat portal sebagai tanda tidak boleh dilewati kendaraan.

Salah satu truk masuk ke UPPKB,  melewati jembatan lama. Sebelum meninggalkan timbangan, truk tersebut sempat berhenti sebentar sebelum melewati “selokan kecil” di situ.

Di jembatan tua, yang dilapisi aspal, ada lobang. Selain itu, pada bagian ujung jembatan memang ada semacam selokan kecil yang memotong ke dua sisi jembatan. Akibatnya, setiap mobil angkutan sebelum meninggalkan jembatan lama “dipaksa” berhenti, ekstra hati-hati jika melintasi selokan itu tadi.

Informasi yang dirangkum dataprosa.com di lokasi UPPKB Balai Raja, itu menyebutkan bahwa jembatan timbang yang baru dibangun tadi belum berfungsi. Timbangannya pun belum ada.

Baik di jembatan lama maupun yang berdampingan dengan yang baru, tak ada kanopi. Di sana juga tidak terlihat lokasi penampungan kendaraan, jika mobil angkutan dalam keadaan over dimension over loading (ODOL), umpamanya.

Di samping itu, di kedua sisi jembatan yang lama maupun yang baru, terdapat semacam “tiang pancang” yang menancap ke tanah, yang diperkirakan jumlahnya lebih dari sepuluh, terbengkalai. Akibatnya, penampakan semacam “tiang pancang” itu menimbulkan kesan, kegiatan pembangunan jembatan timbang seolah-olah masih menggantung, belum tuntas.

Fungsi jembatan timbang

Catatan dataprosa.com dari pelbagai referensi, di antaranya menyebut,
jembatan timbang adalah seperangkat alat penimbang berat kendaraan dengan cara memindahkan kendaraan ke platform yang disediakan. Platform ini berbentuk mirip jembatan, karena itu disebut jembatan timbang.

Setelah kendaraan berada di atas platform, alat dan program pada timbangan akan secara otomatis mengukur dan menampilkan berat kendaraan tersebut pada peralatan komputer yang tersedia di pos operator jembatan timbang.

Pada umumnya, jembatan timbang digunakan untuk mengukur berat kendaraan pengangkut produk seperti truk angkut, truk kontainer, dan semacamnya. Karena itu, secara populer jembatan timbang juga disebut dengan nama “timbangan truk.” Jembatan timbang tidak hanya digunakan untuk mengukur truk, namun juga dapat digunakan untuk mengukur jenis kendaraan lainnya sesuai kebutuhan.

Jembatan timbang digunakan secara luas di berbagai sektor dan memiliki fungsi serta kegunaan tersendiri. Namun pada umumnya, yang diukur berat sebenarnya muatan dari truk tersebut. Biasanya jenis muatan merupakan produk yang sulit untuk dihitung satu per satu, sehingga harus dihitung secara massal. Caranya, dengan terlebih dahulu mengukur berat truk tanpa muatan, kemudian mengukur berat truk yang terisi muatan, dan kemudian menghitung selisih kedua hasil pengukuran tersebut. Nilai selisih itu merupakan nilai berat muatan. 

Ihwan membantah

Lalu, apa benar jembatan timbang di UPPKB Balai Raja yang dibangun belakangan itu memang belum berfungsi? Berapa biaya pembangunannya? Siapa kontraktornya?

Apakah jembatan timbang yang baru dibangun itu memang sudah layak digunakan? Apakah pembangunan jembatan itu memang sudah tuntas?

Koordinator UPPKB Balai Raja bernama Januar Oppusunggu yang dihubungi wartawan di sana memang tidak berada di tempat. Menurut salah seorang petugas, DS Simanjuntak, Januar ke luar daerah, sudah dua hari.

Ihwan Prihanto, Kepala Sarana dan Prasana (Sarpras), BPTD Wilayah IV Provinsi Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) yang dihubungi awak media, Rabu (27/1-2021) di ruang kerjanya di Jalan Cemara, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau membantah kalau jembatan timbang yang dibangun di sisi jembatan timbang lama di UPPKB Balai Raja belum berfungsi. “Sudah berfungsi,” ujar Ihwan didamping Yuki Candra, Humas BPTD.

Dia menguraikan, untuk jembatan lama, kapasitas beban 60 ton. Sedangkan jembatan timbang yang baru, diperuntukkan kendaraan angkutan dengan kapasitas 80 ton. Platform-nya, menurut Ihwan, memang harus ditinggikan. Karena hal itu terkait ODOL, agar proporsional.

Jembatan timbang, kata Ihwan, dibangun 2018, difungsikan 2019. Namun, “Maret sampai November, closed (tutup, red) gara-gara covid 19,” ujar Kepala Sarpras itu.

Lalu, berapa jumlah duit negara yang digunakan untuk membiayai kegiatan terkait pembangunan jembatan timbang berkapasitas 80 ton itu?

“Wah, saya kurang sure (yakin, red), ya,” balas Ihwan yang gemar menggunakan istilah asing saat berlangsung wawancara dengan Tim Wartawan di ruang kerjanya itu. Dia kemudian menambahkan, dirinya tidak tahu berapa biaya pembangunan jembatan.

Ihwan menuturkan, dokumen terkait pembangunan jembatan timbang tidak diserahkan kepada dirinya. Dia melanjutkan, karena tidak ada peraturan seperti itu.

Jika demikian halnya, siapa yang mengetahuinya?

“Saya tidak tahu siapa yang mengetahui dan tidak pernah mencari tahu tentang kegiatan tersebut. Misalnya, siapa kontraktornya, anggarannya berapa,” tukasnya. Dia menekankan, proyek pembangunan jembatan timbang itu bukan dirinya yang merencanakan.

Sumber dataprosa.com menyebutkan, kuat indikasi, kegiatan pembangunan jembatan timbang di Balai Raja, bermasalah.

Bahkan di tengah-tengah berlangsungnya wawancara wartawan dengan Ihwan, selaku Humas Yuki sempat seakan minta izin kepada atasannya yang berada di sampingnya itu untuk memberikan penjelasan secara blak-blakan.

Yuki pun membeberkan, beberapa pihak di BPTD Wilayah IV Riau dan Kepri sudah pernah diperiksa pihak Inspektorat Kabupaten Bengkalis dan pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Bengkalis, terkait pembangunan jembatan timbang Balai Raja tersebut. dp-01

163 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia