Sengketa Tanah Warisan Ermawati Versus Ilas Novera Mudah Diselesaikan, Asal…

Nasir Chan

Pekanbaru, Indonesia-Konflik sengketa tanah warisan antara pihak Ermawati dengan Ilas Novera, belum berkesudahan.

Puncak ketegangan itu terjadi pada Jumat 27 Agustus hingga Sabtu 28 Agustus 2021 lalu ketika pihak Jhonson melakukan pemagaran di lahan seluas kurang-lebih 4 hektare tersebut. Menurut Nasril Chan, tanah itu dibeli Jhonson dari Ilas Novera. “Tanah yang dibeli itu statusnya dalam keadaan sengketa waris,” kata Nasril.

Pemagaran dihalang-halangi Ermawati karena lahan tersebut menurut janda ini merupakan milik almarhum ayahnya bernama M Nasir. Ermawati pernah mengemukakan kepada dataprosa.com, almarhum ayahnya belum pernah membagi-bagikan tanah warisan itu kepada anak-anaknya.

Konflik tanah warisan antara Ermawati dengan adik iparnya itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Lantas, apakah tidak ada solusi, misalnya berdamai di antara keduanya?

“Penyelesaian persoalan sengketa waris tersebut sebenarnya tidaklah susah. Asalkan Ilas Novera mau bersama Ermawati mengajukan Penetapan Ahli Waris (PAW) ke Pengadilan Agama. Apa pun putusan Pengadilan Agama, para pihak harus sama-sama menerima,” ujar Nasril Chan, kuasa dari Ermawati, kepada dataprosa.com, di Pekanbaru, Provinsi Riau, Minggu (5/9-2021).

Nasril melihat, itulah penyelesaian secara adil. Hal ini, kata Nasril, pernah dilakukan dan disetujui Ilas Novera dalam satu perundingan. Maka, memang pernah diupayakan untuk berdamai antara Ermawati dan Ilas Movera, dengan membuat Perjanjian di Notaris Dekke Sahputera.

Saat isi perjanjian sudah dibuat, kata Nasril, sesudah Notaris membacakan dan menjelaskan isi Perjanjian tersebut, Ilas Novera ke luar dari ruangan kantor notaris tersebut, menjumpai seseorang bernama Hendra.

Nasril menuturkan kepada dataprosa.com, semula, Ilas Novera setuju untuk berunding dan menetapkan Perjanjian. Namun, begitu Hendra dan Ilas Novera kembali ke ruangan notaris, Hendra melarang Ilas Novera menandatangani Perjanjian tersebut. “Kami pikirkan dulu, Pak,” ujar Nasril kepada dataprosa.com menirukan ucapan Hendra. 

Saat itu, kata Nasril yang akrab disapa Buyung, Hendra yang seolah-olah pemegang kendali atas Ilas Novera, berjanji akan kembali mendatangi Notaris Dekke Sahputera. “Namun sampai sekarang, tidak ada beritanya,” sebut Nasril. Kepada dataposa.com pedagang lontong ini menyebut, Hendra merupakan kuasa dari Ilas Novera.

Nasril menyarankan, seharusnya Hendra menasihati Ilas Novera agar berdamai dengan Ermawati

Guna melakukan konfirmasi, Hendra yang disebut-sebut sebagai pegawai negeri di salah satu instansi di lingkungan Pemerintah Daerah dii Provinsi Riau itu yang dihubungi dataprosa.com melalui telepon seluler, teleponnya tidak aktif.

Hingga kini, Nasril Chan bertanya-tanya dalam hati, mengapa di antara keduanya tidak berdamai saja? “Ada apa sebenarnya?” tanya Nasril kepada dirinya sendiri. “Sudah jelas dan nyata, Ermawati itu anak sulung almarhum M Nasir si pemilik lahan yang dijual oleh Ilas Novera kepada Jhonson,” tambah Nasril.

Selanjutnya, Nasril kembali memaparkan silsilah keturunan M Nasir dan kronologis asal-usul lahan, kepada dataprosa.com.

M Nasir meninggal pada 1994. Meninggalkan satu janda bernama Nurlela (mantan isteri M Nasir) dan satu isteri (Mundun) dan tiga anak yaitu Ermawati dari hasil perkawinan dengan Nurlela dan Abu Zaman, Aminulah dari perkawinan Nasir dan Mundun. Selain itu, M Nasir juga meninggalkan abang kandung, bernana Zaini.

Panjang lebar Nasril mengemukakan kepada dataprosa.com, Ermawati sudah menjelaskan kepada dirinya secara rinci dengan bukti-bukti bahwa Ermawati anak kandung N Nasir satu-satunya yang masih hidup.

Bukti-bukti yang diperlihatkan Ermawati kepada Nasril Chan, antara lain yaitu kartu keluarga (KK), Akte Kelahiran, Surat Nikah, Pernyataan ahli waris, silsilah ahli waris dan isbat nikah Nurlela dengan M Nasir yang dikeluarkan Pengadilan Agama Pekanbaru.

“Maka sah-lah Ermawati sebagai ahli waris M Nasir,” tandas Nasril. “Mengenai surat tanah, sudah dijelaskan Ilas Novera secara rinci bahwa surat tanah PT Citra Damai Lestari berasal dari SKGR (Surat Keterangan Ganti Rugi, red) Ilas Novera. Kemudian surat tanah Ilas Novera berasal dari surat tanah Aminulah berupa SKPT,” sambung Nasril.

Selanjutnya Nasril menguraikan, surat tanah Aminulah berasal dari Abu Zaman. Sedangkan surat tanah Abu Zaman berasal dari Mundun. Surat tanah yang dimiliki Mundun berasal dari M Nasir.

“Penjelasan itu sesuai dengan keterangan Ilas Novera saat di-BAP sebagai saksi dalam kasus Nasril Chan di Polresta Pekanbaru,” beber Nasril.

Nasril menyebutkan, terkait dengan lahan yang dijual Ilas Novera menantu M Nasir itu tanpa sepengetahuan Ermawati, dijelaskan di persidangan.

Guna mendukung uraiannya itu, Nasril mengungkapkan bahwa dalam persidangan, Atan Malik mengatakan dia baru membayar panjar Rp5 miliar.

“Atan Malik belum melunasi jual-beli tanah dengan Ilas Novera. Dalam pengakuan Atan Malik di persidangan Pengadilan Negeri Pekanbaru, dia baru membayar panjar Rp5 miliar dari jumlah Rp26 miliar,” kata Nasril Chan. dp-01

465 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia