Biaya Trafo: Persoalan Serius Pemasangan Listrik SMAN 17 Pekanbaru
Riau, Indonesia–Kabarnya, dalam waktu dekat ini para guru dan siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 17 Kota Pekanbaru, Kelurahan Bandarraya (bukan Kelurahan Labuhbaru Barat seperti pemberitaan sebelumnya), Kecamatan Payung Sekaki, Provinsi Riau, tepatnya berlokasi di Jalan Fajar Raya, bakal menempati gedung sekolah mereka yang sudah dibangun kira-kira tiga tahun lalu.
Selama ini, meski gedung SMAN 17 sudah berdiri, tapi siswa yang berjumlah lebih 400 orang yang terdiri dari murid kelas X, XI, dan XII itu belum pernah belajar di gedung mereka sendiri. Aktivitas belajar-mengajar menumpang di gedung Wisma Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau yang terletak di Jalan Wisma PGRI, Kelurahan Delima, Kecamatan Tampan.
Informasi bahwa gedung SMAN 17 segera difungsikan, hal itu merupakan kesimpulan sementara setelah beberapa hari lalu dataprosa.com menghubungi pihak-pihak terkait mulai dari Nasrol Akmal, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMA, Dinas Pendidikan (Disdik) Riau; Kepala Sekolah SMAN 17 Pekanbaru Elmida, sampai kepada pihak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pekanbaru.
Sebagaimana pemberitaan di media ini yang tayang pada Senin (25/8-2025) lalu, yang menjadi kendala selama ini mengapa gedung milik sekolah belum ditempati, Nasrol mengemukakan kepada dataprosa.com, Senin (25/8-2025) di ruang kerjanya, ada tiga kendala. Yakni akses jalan menuju sekolah sangat jelek, listrik belum terpasang, dan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Daerah tahun anggaran 2025 belum cair.
Nasrol menjelaskan, untuk kendala ruas jalan yang rusak, pihak Pemerintah Kota (Pemkot) Pekanbaru kira-kira dua minggu lalu sudah melakukan perbaikan. “Jalan sudah mulus,” katanya.
Sedangkan, hingga berita ini tayang, listrik belum terpasang di sekolah. Untuk melakakukan kegiatan belajar-mengajar, listrik harus sudah berfungsi.
“Masalah listrik ini yang paling urgen. Karena harus membeli trafo. Biayanya mahal. Lebih dari Rp90 juta,” tandas Nasrol. Dia menambahkan, dirinya sudah menemui manager Perusahaan Listrik Negara (PLN) Pekanbaru supaya listrik segera dipasang.
Lha, biaya untuk membeli trafo agar listrik terpasang, perlu duit sampai Rp90 juta lebih. Sementara, pihak sekolah tak punya uang. Lalu, dari mana duit sebanyak itu mau diambil?
Dengan gamblangnya Nasrol menyebut, pakai saja duit BOS Daerah (Bosda). “Trafo harus beli. Biaya pembelian trafo dianggarkan pada dana BOS,” tuturnya kepada dataprosa.com, Senin (25/8-2025).
Lalu, melalui dataprosa.com Nasrol pun menyampaikan: “nah, harapan Kepala Sekolah, terutama sekali dana Bosda Provinsi 2025, supaya cepat cair. Jadi, pihak sekolah menunggu konfirmasi tentang dana Bosda tersebut,” ujar Nasrol.
Apa, iya, uang sebanyak Rp90 juta lebih itu bisa dicomot begitu saja dari Bosda untuk kemudian diangkut membeli trafo?
Terkait mengambil uang Bosda untuk membeli komponen listrik Rp90 juta lebih itu, di tempat terpisah Kepala Sekolah SMAN 17 Pekanbaru bernama Elmida, yang dihubungi dataprosa.com, Selasa (26/8-2025) di ruang kerjanya, cenderung bersikap hati-hati dan memberi penjelasan secara mendalam.
“Kita akan bekerja sesuai dengan Juknis (Petunjuk Teknis, red) yang dibolehkan. Kalau Juknis sudah membenarkan, kita akan bekerja. Saya juga ngga mau mengambil risiko. Kalau misalnya tidak ada di Juknis, saya harus membuatnya di RKA (Rencana Kerja Anggaran, red), kan tidak mungkin. Kalau kita sudah diperintahkan kementerian, sekolah-sekolah yang belum ada listrik silakan menggunakan Bosda, kita kan dah kuat nih. Ya, boleh-boleh aja, kan?” tutur Elmida.
Untuk membeli trafo, apakah relevan menggunakan dana Bosda?
“Kenapa tidak relevan? Kita kan bekerja berdasarkan peraturan. Kalau ngga ada peraturannya, kita ngga mau itu. Kita bisa dipenjara sebagai kepala sekolah,” ujar Elmida.
Dia menambahkan, dirinya bekerja menggunakan keuangan sesuai dengan aturan yang ada. Elmida bilang, ada Tim Bosda. “Mereka juga bekerja sesuai dengan Juknis yang ada,” ucapnya.
Kepala Sekolah menjelaskan, pihaknya selalu mengajukan RKA. Kalau RKA sesuai dengan Juknis, mereka (Tim Bosda, red) akan acc (accord, setuju, red). Tim Bosda akan menilai, sesuai atau tidak dengan Juknis.
Kendala selanjutnya, bagaimana dengan proses pemasangan listrik itu sendiri dari pihak PT PLN (Persero)?
Seperti yang disampaikan Nasrol, trafo harus dibeli untuk pengadaan listrik agar terpasang di SMAN 17. Sedangkan, biaya trafo, mahal.
Lalu, melalui WhatsApp (WA), Kamis (28/8-2025), dataprosa.com kemudian menghubungi Fauzar Zain, Humas PLN Pekanbaru.
Ada pun substansi pertanyaan dataprosa.com kepada Fauzar, yakni berhubungan dengan biaya trafo, serta dikaitkan dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Begini pertanyaan (konfirmasi) yang disampaikan dataprosa.com kepada Fauzar selaku Humas PLN Pekanbaru:
Menurut informasi, untuk pengadaan trafo, pihak sekolah SMAN 17 (Disdik Riau) harus membeli trafo. Lalu, berapa harga per unit trafo?
Apakah ada alokasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) di PLN Kota Pekanbaru? Jika memang ada, apakah relevan dialokasikan untuk pembelian trafo (di sekolah)?
Juga melalui WA, Fauzar pun menanggapi pertanyaan dataprosa com bahwa pihaknya lagi mengerjakan jaringan listrik ke SMAN 17 Pekanbaru.
“Dapat disampaikan, saat ini lagi sedang dalam proses pekerjaan pembangunan jaringan listrik,” tulis Fauzar di WA. Dia sama sekali tidak menyinggung seputar trafo dan biayanya, sebagaimana pertanyaan dataprosa.com.
Jika urusan trafo itu tidak juga beres hingga tahun ajaran baru di 2026, maka ada lebih 400 murid SMAN 17 Pekanbaru tidak jadi “pulang ke rumah” di Jalan Fajar Raya, Kelurahan Bandarraya. Bahkan bakal banyak pelajar kelas XII yang selama ini berada dalam “pengasingan” kemudian lulus, menjadi tidak pernah merasakan belajar di gedung sekolah sendiri. red
1,356 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini
