Ka-ka-ka . . .
Negeri Antah Berantah. Oleh : Marbun Ramses
Oleh: Ramses Marbun
“Bob, kau menyadari, nggak, di jagat raya ini hanya di Republik Ilusi (RI) terdapat sejumlah profesor, ditambah ada yang bergelar doktor, yang perilakunya unik,” ujar Bramantara kepada rekan seprofesinya, Bobby.
Lontaran kata-kata Bramantara itu berlangsung di kantin Sonya, di Antah Berantah, pada tengah hari. Pancaran sinar matahari di Provinsi Antah Berantah, Republik Ilusi, kali ini cukup terik.
Menanggapi ujaran Bramantara, wartawan koran dwi bulanan Isu Publik, Bobby, kemudian menatap wajah rekannya itu, tajam. Di sebelah Bobby, ada Rakarada, wartawan media online indigofiles.com terbitan Provinsi Riau yang bertugas di Provinsi Antah Berantah.
“Tidak,” balas Bobby, kemudian menambahkan, “Kenapa kau berbicara seperti itu, Bram?” Bobby malah balik bertanya.
Munaf yang juga hadir di kantin, tiba-tiba ikut nimbrung.
“Wah, Bob, kau sebetulnya tak perlu harus balik bertanya ‘kenapa.’ Aku sebetulnya ingin tahu juga kelanjutan dari pernyataan Bram tadi,” timpal Munaf. Sebelum buka suara, Munaf sempat memandangi siluet tubuh Sonya yang lagi sibuk memberesi dagangannya.
Seperti biasa, Sonya mengenakan celana jeans ketat yang dipadu dengan balutan kaos yang juga terasa sempit. Sehingga dada Sonya yang berukuran 36 B, itu dari pengamatan Munaf, warga Antah Berantah, kian terasa menonjol. Wartawan media online, fatamorgana.com ini memang gemar dengan pemandangan seperti itu.
“Oke-lah. Kenapa rupanya dengan para profesor dan doktor yang kausebut tadi, Bram?” Bobby kemudian mendesak Bramantara begitu Munaf mengeluarkan kata-katanya ke arah dirinya.
Bram masih diam.
“Apanya yang unik, Bram?” kembali Bobby menuntut Bram agar menyambung kata-katanya yang menggantung.
Bram kemudian melemparkan pandangannya ke arah Bobby sambil tersenyum.
“Kau tahu orang yang bernama Profesor Isril?” tanya Bram.
“Ya. Tahu! Dia salah satu pakar Hukum Pidana yang cukup terkenal di Republik Ilusi,” jawab Bobby.
“Dialah satu-satunya pofesor di jagat raya ini, yang pernah mengatakan seorang presiden, itu goblok!” ujar Bram. Sebenarnya, tentang Isril ini sudah pernah dibahas di sini.
Mendengar ocehan Bram, seluruh rekan mereka yang hadir di warung Sonya, tersenyum. Bahkan ada yang terkekeh. Seolah mengejek si Profesor yang dimaksud Bram.
“Kedua. Kalau Profesor Rubindani, kau pernah dengar?”
Kali ini Bobby mengingat-ingat. Sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi lupa.
“Dia itu akademisi ulung di bidang perminyakan. Terlibat penyalahgunaan kekuasaan dan praktik-praktik mafia hukum di industri perminyakan. Dia juga Dosen teladan. Tapi menerima suap dan akhirnya dijebloskan ke lembaga pemasyarakatan, menjadi warga binaan,” Bram menerangkan.
Rekan-rekan Bram yang hadir di warung Si Janda Sintal menjadi serius untuk mendengar kelanjutan kata-kata Bram.
“Ketiga,” lanjut Bram, kali ini tanpa memberi kesempatan bagi Bobby atau rekan lainnya untuk berkomentar, “Tentulah kau tahu siapa Profesor Armin,” sambungnya.
“Politisi gaek itu, kan?” Bobby langsung menanggapi kata-kata Bramantara.
”Ya. Armin itu satu-satunya ‘pemegang mandat’ di jagat raya ini untuk melakukan klasifikasi, mana ‘partai setan’ dan mana ‘partai masuk surga.’ Entah dari mana dia dapat ‘mandat’ itu,” kata Bram.
“Kau memang suka mencatat kekurangan-kekurangan para tokoh, Bram,” tiba-tiba Klara ikut-ikutan bersuara.
Bram dengan sigap membalas komentar Wartawati Si Rambut Panjang.
“Tanpa harus dicatat-catat pun, itu realita sejarah, Klara,” ucap Bram. “Dan yang keempat, sudah pasti, sebagai wartawan atau pun orang Lembaga Swadaya Masyarakat, kalian tidak asing lagi dengan nama Doktor Alkili,” sambung Bram.
“Ya. Kasus suap di Mahkamah Konstitusi,” langsung Bobby menjawab Bram.
“Persis sekali, Bobby. Tepatnya, Alkili , mantan Ketua Mahkamah Konstitusi menerima suap, yang kalau dikumpul-kumpul mencapai puluhan miliar rupiah dalam bentuk uang tunai yang diumpetin di gedung Mahkamah Konstitusi, terkait sengketa berbagai Pilkada di kabupaten di Republik Ilusi,” Bram melengkapi omongan Bobby. “Bayangkan saja, apa jadinya negara ini, benteng terakhir lembaga hukum, dikotori pakar hukum. Ini sempat menjadi pergunjingan di dunia internasional. Ada ‘Mbah”-nya hukum, bermasalah dengan hukum. Dan kejadian begini, hanya ada di Republik Ilusi. Ini unik,” ujar Bram.
Begitu Bram melampiaskan uneg-unegnya, suasana di kantin si Janda Bahenol itu untuk beberapa saat, hening.
Sebentar, Rakarada menarik napas panjang, usai mendengar omongan Bram.
“Yah…Itulah kenyataan yang terjadi di negeri kalian, Bram. Kelakuan para profesor dan doktor tadi, cukup menandakan bahwa banyak tokoh di negeri ini yang moralnya bobrok. Memprihatinkan. Tidak seperti kami di Indonesia. Moral para kaum intelektual di negeri kami, terjamin. Bisa diandalkan. Rakyat kami adalah orang yang ramah, jujur, bukan pembohong, jauh dari kemunafikan, tidak suka memaki-maki. Kami adalah orang yang gampang senyum. Kami orang yang beragama. Rajin beribadah. Taat kepada Tuhan. Kalau sampai ada pihak-pihak yang menyatakan bahwa sebagian orang Indonesia itu orang yang munafik, pembohong, inkonsisten, tukang fitnah, itu namanya penistaan!” suara Rakarada agak menggelegar.
“Apa kaubilang?” tanya Bramantara sambil mendekatkan telinganya ke arah Rakarada.
“Orang Indonesia terkenal ramah, jujur, sopan, pokoknya yang baik-baiklah,” ulang Rakarada. “Ada baiknya kalian dari negeri Antah Berantah, datang ke Indonesia, belajar budi pekerti, agar moral kalian berubah menjadi lebih baik,” saran Rakarada. “Kelakuan seperti para Profesor yang kauceritakan itu, tidak mungkin ada di negeri kami yang rakyatnya taat kepada ajaran agama,” Rakarada berkata jujur sejujur-jujurnya.
“Ka-ka-ka…Ka-ka-ka…Ka-ka-ka…Ka-ka-ka-ka-ka-ka,” tawa Bram tiba-tiba meledak begitu mendengar celoteh Rakarada yang terakhir. Tawa ini menirukan Popeye the Sailor Man, filem animasi yang sangat terkenal di era 1960–1970-an. Bram memang penggemar Popeye, tokoh pada filem seri animasi Popeye the Sailor Man itu tadi.
“Husss!” mendadak Klara menghardik Bram dengan mata melotot seolah-olah nyaris copot.
Bram pun sekonyong-konyong membisu, begitu dibentak Klara. ***
Dikutip dari Tabloid BOS (Bacaan Orang Sukses) edisi 328
4,191 total views, 6 views today
