Kepsek SDN 15 Sempat Angkat Tangan, Sarkani: Pelaksanaan Proyek Swakelola Revitalisasi, Rumit!

Pekanbaru, Indonesia–“Jadilah ini yang pertama dan terakhir. Saya ngga sanggup.”

Itulah frasa yang sempat disampaikan Sarkani, Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 15, Jalan Cut Nyak Din, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau kepada dataprosa.com, Kamis (25/9-2025) di ruang kerjanya.

Sarkani selaku Kepala Sekolah (Kepsek) mengemukakan hal itu sesudah memaparkan panjang lebar bagaimana rumitnya memikul tanggung jawab dalam mengelola proyek swakelola revitalisasi di SDN yang dipimpinnya.

Di SDN 15, Jalan Cut Nyak Din, Pekanbaru kini memang tengah berlangsung kegiatan revitalisasi sekolah dalam bentuk Swakelola. Yang terdiri dari pembuatan toilet, Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan ruang perpustakaan.

Kepada media ini Sarkani menekankan, kegiatan revitalisasi di SDN 15 adalah dalam bentuk swakelola. Bukan proyek Dana Alokasi Khusus (DAK). Dia memang membenarkan dananya dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2025.

Pria yang tampak jauh lebih muda dari usianya yang sudah 55 tahun itu dengan tegas menolak kalau disebut kegiatan di SDN 15 merupakan dana DAK.

“Dana revitalisasi tidak sama dengan DAK. Memang dari Pusat juga. Kalau DAK, misalkan tahun ini kita dapat, tahun depan tidak lagi. Kalau revitalisasi, sekarang dapat, mungkin tahun depan tidak lagi,” papar Sarkani.

Di samping itu, Sarkani juga menyampaikan, dari Pusat, duit proyek tidak ditransfer ke rekening sekolah seperti yang mungkin dipikirkan banyak orang. “Tidak ada pakai buku rekening. Kalau dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah, red) ada pakai rekening sekolah,” sebutnya.

Sebagaimana dikemukakan Kepsek, pelaksanaan proyek swakelola itu tidak mudah. “Bahkan pada RAB (Rencana Anggaran Biaya, red), ada beberapa item di bawah harga pasar. Belum lagi pajak,” ucap Sarkani.

Karena proyek dalam bentuk swakelola, itu sebabnya Sarkani sempat menolak kegiatan yang diperkirakan berbiaya Rp390 juta itu. “Kalau swakelola, saya menolak. Karena pelaksanaannya rumit. Saya angkat tangan. Jadilah ini yang pertama dan terakhir. Saya ngga sanggup,” tuturnya.

Mengapa proyek swakelola yang dibiayai APBN itu sampai rumit menurut Sarkani?

Pelaksanaannya! Misalnya, bagaimana membuat laporan.

“Mulai dari membuat laporan harian, mingguan, hingga laporan bulanan. Memikirkan proyek, mulai dari pelaksanaan hingga selesai. Sehingga pelaksanaan program sekolah sampai tak terkoordinir. Disuruh mengelola proyek, tapi pertanggungjawaban, berat,” katanya.

Lalu, Sarkani sendiri membeberkan kepada dataprosa.com, dirinya sama sekali tidak tahu persis bagaimana munculnya proyek swakelola itu di sekolahnya. Siapa yang mengusulkan ke Pusat?

“Mungkin dari Operator Sekolah,” ujar Sarkani. Dia kemudian menambahkan, Operator Sekolah di SDN 15, tugasnya antara lain meng-input data, seperti laporan aset sekolah. p-01

1,089 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish