Penahbisan Pendeta GKPI, Bishop: “Jangan Andalkan Pemikiranmu, Kepintaranmu, ada Kristus Sumber Kekuatan”
Pekanbaru, Indonesia–Kunci kesuksesan seorang rasul, pendeta dalam pelayanan, seluruh pelayan, adalah kuasa Roh Kudus. Pertolongan Roh Kudus kepada hamba-hambanya.
Bishop Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) Pendeta (Pdt) Humala Lumban Tobing mengemukakan hal itu dalam khotbahnya di Gereja Sion Senantiasa, Pekanbaru, Provinsi Riau, Minggu (26/4-2026) pada kebaktian Minggu Jubilate sekaligus Penahbisan Pendeta GKPI.
Pada acara, begitu khotbah selesai, 20 Vikar (calon pendeta) menjalani prosesi Penahbisan Pendeta langsung oleh Bishop Pdt Humala.
Sebagaimana tercatat pada Tata Ibadah Penahbisan Pendeta GKPI, acara terdiri dari Persiapan & Prosesi, Ibadah Minggu dan Penahbisan Pendeta serta Kata-Kata Sambutan. Dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai.
Dalam khotbahnya Bishop menyatakan, memang pengetahuan, pengalaman dan berbagai metode dalam pelayanan, sangat penting. “Tetapi yang sangat menentukan adalah peranan Roh Kudus,” ujarnya.
Pdt Humala melanjutkan, itulah sebabnya ada penafsir mengatakan bahwa Kisah Para Rasul disebut dengan Kitab Pelayanan Roh Kudus.
“Peranan Roh Kudus yang memberikan kekuatan. Jadi kekuatan dari Roh Kudus adalah kunci kesuksesan di dalam pelayanan yang nyata dalam kehidupan Rasul Paulus,” sebutnya.
Pendeta kemudian melontar pertanyaan, apa substansi dalam khotbah Petrus di hadapan orang-orang Yahudi pasca peristiwa Pentakosta itu?
“Petrus menunjukkan kepada kedatangan Sang Mesias. Menegaskan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dijanjikan,” kata Bishop.
Dia menambahkan, dengan tegas Petrus menyapa orang-orang Yahudi dengan berkata: “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantara Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu,” sambungnya mengutip Perjanjian Baru: Kisah Para Rasul 2: 22.
Dalam pada itu Bishop mengatakan, ini adalah penguatan yang disampaikan oleh Rasul Petrus kepada orang banyak. Bahwa Allah telah menentukan, menyatakan, dengan mujizat-mujizat, dengan perbuatan-perbuatan yang hebat, yang tidak pernah dilihat.
Menurut Bishop, melalui Yesus Kristus itu mau menyatakan bahwa Sang Mesias adalah Juru Selamat. “Penebus kita dan diharapkan kepada orang-orang Yahudi menerimanya sebagai Tuhan dan Juru Selamat.”
Pendeta Humala menegaskan, jangan andalkan pemikiranmu, kepintaranmu. “Ada Kristus yang telah mati dan bangkit, sumber kekuatan kita. Begitu juga sumber kekuatan pelayanan kita,” tandasnya.
Selanjutnya Pendeta mengisahkan, Nazaret di mata orang Yahudi dipandang rendah. Menurut orang Yahudi, bagaimana mungkin sesuatu yang baik datang dari Nazaret? Karena Yesus itu tukang kayu dari sana.
“Tapi dia adalah Mesias yang ditentukan oleh Allah, yang dinyatakan dengan kekuatan-kekuatan, mujizat-mujizat, dan tanda-tanda. Dialah orang sederhana dari suatu desa kecil di Nazaret. Tetapi ditinggikan oleh Tuhan menjadi Mesias. Hal ini menjadi inspirasi juga dan refleksi di tengah-tengah kehidupan para pelayan dan hamba-hamba Tuhan,” paparnya di hadapan 20 Vikar dan ratusan jemaat GKPI.
Lalu Bishop menyampaikan, sering dalam hidup ini, orang-orang kecil bahkan yang termarjinalkan justeru ditinggikan oleh Tuhan. Atau mendapat promosi dari Tuhan. Misalnya, Nomensen.
Dari catatan dataprosa.com, Ingwer Ludwig Nommensen (1834–1918) lahir 6 Februari 1834 di Desa Nordstrand, pulau kecil di Frisia Utara, Jerman.
Dia (Nomensen, red), kata Pdt Humala, berlatar belakang dari keluarga sederhana. Boleh dikatakan “tidak terhitung” di kalangan kelas menengah ke atas. “Tapi dalam perjalanan hidupnya, dia dipakai, ditinggikan oleh Tuhan menjadi misionaris, memberitakan Injil di Tanah Batak. Sehingga dengan karyanya, disebut dengan ‘Rasul Orang Batak’ dari keluarga sederhana. Dipakai Tuhan luar biasa dalam pelayanan,” Pendeta mengisahkan.
“Sebagai hamba-hamba Tuhan, pendeta, kita ini diharapkan setia melayani Tuhan. Terutama, itu kami tekankan kepada Vikar yang akan ditahbiskan menjadi pendeta. Kesetiaan kepada Tuhan itu adalah suatu keharusan. Itu adalah respon kita yang terbaik di tengah-tengah pelayanan,” sebut Bishop dalam khotbahnya pada menit-menit menjelang acara Penahbisan.
Pdt Humala mengemukakan, kesetiaan, loyalitas, “Itu saya kira yang sangat penting di tengah-tengah kehidupan kita termasuk dalam berorganisasi. Loyalitas kita terhadap regulasi-regulasi di tengah-tengah gereja kita GKPI,” tambahnya.
Bishop yang bergelar doktor yang juga Magister Teologi (MTh) itu menekankan, sebagai Hamba Tuhan, harus selalu rendah hati melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Tuhan dalam pelayanan Tuhan.
“Dalam Penahbisan Pendeta GKPI hari ini, para Vikar yang akan ditahbiskan menjadi pendeta, terpanggil untuk menjadi pelayan Firman. Beritakanlah Firman sebagai Evangelum, kabar baik, good news, barita nauli, barita las ni roha,” ujar Bishop pada khotbah yang berlangsung dalam bahasa Indonesia yang kadang diselipkan dengan istilah-istilah Batak. Dari pengamatan dataprosa.com, jemaat GKPI yang hadir hampir seratus persen Bangso Batak.
Kembali Bishop menegaskan, jangan jadikan mimbar, menghakimi. Atau membongkar kebobrokan jemaat. Tetapi jadikan mimbar ini, mimbar kita, karena pusat pemberitaan kita adalah Kristus. “Maka kita harus sungguh-sungguh memformulasikan khotbah itu sebagai kabar baik, barita las ni roha. Khotbah itu menyejukkan, mendorong memotivasi, menghibur dan juga mendorong jemaat untuk berpengharapan.”
Jadi, ujar Pendeta, bukan khotbah yang mengklaim atau mengutuk seseorang. “Tapi khotbah yang membawa kabar baik, sukacita karena pusat pemberitaan kita adalah Yesus Kristus yang mati dan bangkit.”
Oleh karena itu, terkait dengan jabatan kependetaan, kata Bishop, khususnya kepada para Vikar yang akan ditahbiskan, sesungguhnya jabatan kependetaan, itu yang pertama adalah anugerah Tuhan, pemberian Tuhan.
“Oleh karena itu jika menerima tahbisan dan melakukannya di tengah-tengah pelayanan, itu adalah pemberian, anugerah Tuhan bagi kita. Sehingga, sebenarnya tidak ada yang dapat kita sombongkan karena kepintaran kita atau karena kebijaksanaan kita. Tapi itu adalah pemberian, silehon-lehon yang sangat perlu kita pelihara dan laksanakan dengan baik.”
Yang kedua, tambah Bishop, jabatan kependetaan itu adalah doulos. Kita ini adalah hamba-hamba yang diharapkan oleh Tuhan untuk setia melayani Tuhan. Hidup kita secara totalitas kita persembahkan kepadaNya untuk kemuliaan nama Tuhan.
Yang ketiga, kependetaan itu Gembala. “Tugas panggilan kita sebagai pendeta adalah Gembala. Ini mengingatkan kita juga terhadap satu nilai berdirinya GKPI. Yesus adalah Gembala yang baik. Ini akan terus kita renungkan, kita aplikasikan sebagai Gereja dan juga para pelayan supaya kita sungguh-sungguh menjadi gembala yang baik. Kita tidak mengharapkan ada konflik, perselisihan di gereja kita. Yang terutama dan pertama, berada di garda depan adalah kita para pendeta. Kita dipanggil oleh Tuhan supaya sungguh-sungguh menjadi Gembala yang baik di tengah-tengah pelayanan kita,” demikian Bishop.
Bishop berpesan, terkait dengan tema khotbah, dasar utama sukacita dan sorak-sorai kita sebagai umat Kristen adalah Sang Mesias, Kristus yang mati dan bangkit. Hati dan pikiran kita harus senantiasa tertuju kepadaNya dan itulah sumber sukacita kita.
Turut hadir pada acara Penahbisan Pendeta yang ke-63 GKPI tahun ini, yakni Sekjen GKPI Pdt Parsaoran Sinaga; Ketua Panitia Penahbisan Pendeta GKPI Tahun 2026 Pnt Janner Marbun; Kepala Pembina Kristen, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Riau Pnt A Silaban; Sekretaris Komisi V, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau Robin Hutagalung; Majelis Sinode GKPI Pnt L Situmorang.
Para Vikar berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pelaksanaan Penahbisan Pendeta GKPI 2026 kali ini berlangsung di Gereja Sion Senantiasa, Pekanbaru, Provinsi Riau. Ratusan pengunjung memadati ruangan gedung maupun halaman gereja yang seluruhnya dipasang tenda. Juga tayang dalam bentuk live streaming. Menjelang acara berakhir, sempat turun hujan beberapa saat.
Dari pengamatan dataprosa.com, rata-rata Vikar kelahiran 1992 hingga 2001. Di antaranya Panahatan Uliando Sirait, lahir di Marihat Mayang, 27 Juni 1992 jemaat asal GKPI Tanjung Haloban dan Dian Agave Napitupulu lahir di Aek Salabat, 1 Januari 2001 jemaat asal GKPI Huta Padang. ramses
75 total views, 75 views today
