Babinsa Prihatin Stok Kayu Jalur Langka

Teluk Kuantan, Indonesia–Bukan hanya masyarakat saja yang prihatin akibat makin sulit mencari kayu jalur, Babinsa Ramil 02/KT Dim 0302/Inhu Sertu Ardianus juga ikut prihatin terkait stok kayu untuk bahan jalur yang kian menipis, sementara budaya dan tradisi besar masyarakat Kuansing ini harus dipertahankan sampai kapan pun.

Pasalnya boleh dikata, kayu-kayu berukuran besar mulai meranti, kruing, balam, kompe dan sebagainya kian tipis. Bahkan kayu-kayu jalur saat ini hanya berada dikawasan green belt, kawasan hutan lindung.

“Kita sangat prihatin sekali melihat kondisi yang ada sekarang ini, mungkin lima atau sepuluh tahun yang akan datang tradisi pacu jalur akan hilang, seiring langkanya kayu sebagai bahan membuat kayu jalur,” ujar Sertu Ardianus.

Menurutnya, untuk membuat sebuah jalur harus mendapatkan kayu yang cukup besar dan panjang, namun kondisinya kayu jalur telah mulai langka diperoleh masyarakat sesuai dengan ukuran dan panjangnya.

Dijelaskannya, untuk mengantisipasi kelangkaan terhadap kayu jalur tersebut, maka pihaknya sejak beberapa tahun terakhir ini telah memprogramkan hutan rakyat, dengan menanam jenis kayu mulai dari mahoni, kruing, meranti, balam, kompe, jalutung, pulai, tambusu, gaharu di tengah-tengah masyarakat.

“Tanaman hutan rakyat ini kombinasi antara tanaman produktif seperti karet dengan kayu-kayu alam, perbandingannya karet 90 persen, kayu 10 persen. Kita harapkan ini jadi stok kayu jalur di kemudian hari,” ujarnya.

Menurutnya, kayu hutan rakyat yang diberikan pada warga juga cukup cepat perkembangannya, 3 sampai 5 centimeter setiap tahun, sementara jika di hutan hanya 1 centimeter setiap tahunnya.

“Kita harapkan ke depan, kayu-kayu hutan tanaman rakyat dapat jadi stok kayu jalur,” pungkasnya. rls/dp-01

2,911 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia