Bayar Pakai BOSDa: Sambungan Baru Listrik PLN 105.000 VA Peruntukan Sosial, Berbiaya Rp100 Juta di Pekanbaru

Riau, Indonesia–Akhirnya, murid-murid Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 17 Pekanbaru, jadi juga “pulang ke rumah,” di Jalan Fajar Raya.

Urusan pemasangan sambungan baru listrik PLN yang selama ini menjadi hambatan serius, akhirnya teratasi begitu dana Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDa) cair untuk SMAN 17 Pekanbaru. Yang kemudian digunakan bayar pemasangan sambungan jaringan Rp100 juta ke PLN Pekanbaru.

Selama ini, para pelajar SMAN 17 diperkirakan berjumlah 430 orang yang terdiri dari murid kelas X, XI dan kelas XII itu menumpang di Gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Riau di Pekanbaru. Dengan kata lain, proses belajar-mengajar SMAN 17 Pekanbaru sejak gedung dibangun pada 2023 lalu, belum pernah di sana. Barulah pada Senin pagi, 6 Oktober 2025 lalu para pelajar pindah ke gedung SMAN 17 yang baru, di Jalan Fajar Raya, RT 06, RW 03, Kelurahan Bandarraya, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru.

Sebagai catatan, pada 2023 lalu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Riau membangun sekaligus 3 gedung SMAN di Kota Pekanbaru: SMAN 17, 18 dan SMAN 19. Untuk gedung SMAN 18 dan 19, jauh-jauh hari sudah berfungsi sebagai tempat aktivitas belajar-mengajar. Hanya gedung SMAN 17 yang proses pembangunannya terseok-seok.

Dari pengamatan dataprosa.com, selain pembangunan gedung, persoalan krusial yang menjadi hambatan dalam pembangunan sekolah selama ini, yakni pemasangan jaringan listrik. Menurut keterangan baik dari pihak sekolah maupun di lingkungan Disdik Riau yang dihimpun dataprosa.com, pihak sekolah tak punya duit untuk biaya pemasangan jaringan listrik berikut trafo. Biayanya hampir Rp100 juta, sudah termasuk untuk membayar Sertifikat Laik Operasi (SLO).

Duit sebanyak Rp100 juta untuk membayar PLN, itu pihak sekolah akhirnya hanya bisa berharap dari duit BOSDa Riau tahun 2025. Sedangkan duit BOSDa, sebelumnya tak kunjung cair.

Kuat indikasi, persoalan terlambatnya duit BOSDa cair, hal ini juga menjadi salah satu hambatan tersendatnya pemasangan jaringan dan trafo.

Proses belajar-mengajar tak mungkin berlangsung tanpa arus listrik. Selain berfungsi sebagai alat penerang, pengoperasian komputer atau alat komunikasi sudah pasti membutuhkan listrik, untuk sekadar contoh.

Tapi begitu duit “sudah di depan mata,” maka semangat pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) di Pekanbaru pun “menjadi lebih serius” dalam membereskan urusan jaringan listrik hingga tuntas-tas-tas-tas. Sebelum fulus ada, proses pemasangan jaringan memang “terlantar.”

Lokasi gedung sekolah memang jauh dari permukiman penduduk. Posisinya seolah-olah di “tengah hutan.” Pemasangan tiang listrik yang jumlahnya puluhan batang di sepanjang jalan Fajar Raya tampak hanya tertuju ke gedung sekolah.

Sebagai informasi tambahan, seperti yang pernah dijelaskan Kepala Sekolah (Kepsek) bernama Elmida, 70 persen orang tua (wali murid) di sana terdiri dari kondisi ekonomi menengah ke bawah. Oleh karena kondisi ekonomi orang tua yang sulit, para murid banyak yang tinggal dan dibiayai keluarga. Bahkan ada murid yang yatim-piatu.

Profesi orang tua mereka pun beragam. Mulai dari pemulung, tukang kopek (sortir) bawang maupun cabai sampai yang bekerja tukang ojek, pedagang daging keliling dengan kendaraan roda dua, dan pelbagai aktivitas ekonomi sektor informal lainnya.

Lalu, apa iya, pemasangan jaringan listrik berikut trafo untuk kepentingan fasilitas pendidikan di Pekanbaru, memang butuh biaya sampai hampir ratusan juta rupiah? Untuk pertanyaan ini, saat dihubungi wartawan belum ada dari pihak PLN penjelasan yang tegas, terang benderang dan mudah dimengerti masyarakat awam.

Tapi Humas PLN Pekanbaru bernama Fauzar Zain didamping rekannya Panggabean, kepada wartawan  termasuk daraprosa.com, Jumat (3/10-2025) di gedung PLN, Jalan Setia Budi, Pekanbaru, memang mengatakan gratis untuk pemasangan jaringan listrik dan trafo di Jalan Fajar Raya menuju SMAN 17. Apalagi hal itu untuk kepentingan sekolah. 

Lha, apa benar memang gratis? Sebagaimana yang disebut Fauzar?

Lalu, wartawan kemudian menyampaikan informasi kepada Fauzar dan Panggabean bahwa pihak sekolah sudah membayar biaya pemasangan jaringan berikut trafo hampir Rp100 juta.

Mendengar informasi itu, Panggabean langsung menyela.

“Mana buktinya?” katanya.

Lho, masa, sih, Humas minta bukti kepada wartawan? Bukan bertanya kepada Bos-nya, misalnya kepada Zulfendi selaku Manajer Unit Layanan Pelanggan Pekanbaru Kota Barat. Atau kepada Manajer bernama Boy Ilham Wahyudi?

Berdasarkan penelusuran dan salinan data tertulis yang pernah dibaca dataprosa.com, pihak SMAN 17 sudah membayar biaya SLO dan Nomor Induk Instalasi (NIDI) Daya S2/105.000 VA kepada PT Jasa Pemeriksaan Instalasi Kelistrikan Indonesia (Japindo) Rp5.775.000. Tanggal pembayaran 4 Maret 2025. SLO yakni Nomor 1162.O.P.F.424.1471.C25 tertanggal 4 Maret 2025.

Sebenarnya, dari sumber berkompeten yang dirangkum dataprosa.com, pada 2024 lalu pihak SMAN 17 sudah pernah mengajukan Permohonan pemasangan baru kepada ULP Pekanbaru Kota Barat.

Lantas, Permohonan itu dijawab Manajer ULP Pekanbaru Kota Barat bernama Zulfendi, ditandatangani dan stempel, tertanggal 9 Januari 2025. Permohonan pengajuan pemasangan baru jaringan listrik itu disetujui.

Sedangkan, pihak SMAN 17 melakukan transaksi biaya penyambungan baru berikut trafo melalui transfer Rp92.308.000. Ada pun waktu transaksi, yakni 20 Agustus 2025.

Dari keadaan itu dapat diketahui, pengajuan sambungan baru listrik sudah lebih setahun diajukan. Tapi berhubung dana BOSDa baru cair untuk membiayai pemasangan jaringan baru, itu maka duit baru bisa di-transfer kepada PLN Pekanbaru melalui bank “brksyariah” pada 20 Agustus 2025. Begitu duit sudah “di depan mata,” barulah pihak PLN Pekanbaru “secepat kilat” melanjutkan kegiatan sambungan baru pekerjaan “peruntukan sosial” itu. red

2,379 total views, 9 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish