Lolos ke Perguruan Tinggi Negeri, Tapi Lebih Memilih Ingin Jadi Tentara
Pekanbaru, Indonesia–Kamis (12/6/2025), selama seharian beberapa warga berkumpul di warung kopi yang didirikan Boru Sihotang. Beralamat di pinggir Jalan SM Amin, Kelurahan Labuhbaru Barat, Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
Posisi warung persis di Simpang Jalan SM Amin dan Jalan Fajar Ujung, tak jauh dari Kantor Camat Payung Sekaki.
Pada hari itu, warung Boru Sihotang dan sebagian besar warung kopi di sepanjang jalan lintas SM Amin bakal dibongkar Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pekanbaru.
Alasan warung yang berada di sepanjang pinggir jalan SM Amin dan Air Hitam ditertibkan, karena oleh pihak Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru dianggap melanggar ketentuan, mendirikan bangunan tanpa izin dan di sana disinyalir terdapat warung esek-esek berkedok warung kopi. Padahal, di sana banyak yang memang benar-benar pelaku ekonomi sektor informal, buka warung kopi. Salah satu di antaranya, warung kopi Boru Sihotang, orang tua tunggal yang membesarkan empat anak-anaknya sekaligus tinggal di situ.
Sesudah terjadi pertemuan dan negosiasi antara Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho, Ikatan Keluarga Batak Riau (IKBR) dan warga yang warungnya bakal digusur, akhirnya terjadi kesepakatan. Penertiban pun ditunda. Warga diminta mendata warung kopi mana saja yang benar-benar merupakan warung kopi, bukan warung remang-remang yang berkedok warung kopi. Dari hasil pendataan nantinya, bagi mereka yang betul-betul jualan kopi, diupayakan untuk dicarikan solusinya.
Akhirnya, Boru Sihotang pun bernafas lega. Masih bisa melanjutkan aktivitas sehari-hari.
Boru Sihotang tingal di situ sudah bertahun-tahun. Suaminya, Panggabean, meninggal sejak delapan tahun lalu. Suaminya itu meninggal akibat penyakit struk yang berkepanjangan.
Pada tempat tinggal Boru Sihotang, yang sangat sederhana itu, sebagian ruangan juga berfungsi sebagai warung. Selain kopi, juga menyediakan mi instan yang direbus dan digoreng. Kadang-kadang ada juga yang minta nasi disertai lauk pauk ala kadarnya dengan harga yang “bersahabat.”
Konsumen yang minum dan makan di warung Boru Sihotang kebanyakan para sopir truk antarlintas daerah atau provinsi. Bahkan, sebagaimana penuturan Boru Sihotang kepada wartawan di warung tersebut, kadang-kadang ada juga sopir yang tidur di situ dengan kondisi seadanya sebelum melanjutkan perjalanan.
Ingin jadi tentara
Selama tinggal sekaligus berusaha di situ, orang tua tunggal ini sudah membesarkan empat anaknya. Semua putra-putrinya bersekolah. Anak tertua wanita, kemudian pria, anak ketiga laki-laki dan si bungsu perempuan.
Anak tertua, wanita, lulus Sekolah Menengah Atas (SMA), kemudian bekerja di kedai kopi yang juga sekaligus pemilik homestay. Sehingga paling tidak, mampu melonggarkan beban Boru Sihotang selaku orang tua.
Riski Daniel Panggabean merupakan anak kedua yang baru lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Taruna, Pekanbaru, tahun ini.
Sejak kelas satu SMP, Riski sudah membantu ibunya. Di saat teman-teman seusia dan satu sekolahnya banyak yang larut bermain game online atau android, setiap libur sekolah, Riski justru memilih bekerja mencuci mobil-mobil truk yang lokasi pencucian kurang-lebih berjarak 10 meter di sebelah kiri warung. Kegiatan ini dilakoninya hingga selama di SMK.
“Selama di SMK, setiap Sabtu-Minggu, libur sekolah, Riski ikut mencuci truk,” ujar Boru Sihotang.
Di dekat pencucian truk, ada juga dibuat pondok tempat istirahat. Dan sejak SMP hingga SMK itu pula Riski tidur di situ. Bukan di warung bersama ibu, kakak dan adik-adiknya.
Kepada wartawan, Boru Sihotang menuturkan, keinginan Riski begitu keras untuk menjadi tentara.
“Padahal, dia lulus, diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Dapat beasiswa,” ujar wanita paruh baya ini menyebut anaknya diterima di perguruan tinggi negeri ternama di Provinsi Riau. Tapi, anaknya itu justru ngotot memilih jadi TNI. Menolak kuliah.
Lalu, wartawan bertanya kepada Boru Sihotang, kenapa Riski menolak kuliah, malah memilih ingin jadi prajurit TNI?
Kepada ibunda, Riski pernah menjelaskan, pertama, dua adiknya masih SMP. Adik perempuan si bungsu, kelas satu. Sedangkan anak nomor tiga, kelas 2 SMP. Menurut Riski, adik-adiknya itu masih butuh biaya yang tidak sedikit. Jika dirinya kuliah, meski dibantu beasiswa, kata ibunya, Riski memperkirakan akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit juga.
Kedua, berniat jadi prajurit TNI, Riski ingin mengangkat harkat dan derajat keluarganya. “Supaya orang tidak menganggap kita sepele, Ma,” begitu, suatu saat, ucap Riski kepada ibunya, sebagaimana yang diteruskan Boru Sihotang kepada wartawan, di kediamannya itu.
Jadi, kalau lolos jadi prajurit TNI, apa tidak khawatir jauh dari orang tua? Misalnya saja ditugaskan ke Papua atau ke luar negeri, seperti ke Timur Tengah, Afrika atau ke mana saja?
Dari keterangan putranya itu, Boru Sihotang menyatakan, Riski tidak takut ditugaskan di mana saja. Dia bilang, kalau soal kematian, orang di mana saja bisa mati. Begitu Riski satu kali pernah mengungkapkan kepada ibunya. “Lebih baik mati membela negara. Mati terhormat,” ujar Riski suatu saat, menjawab kekhawatiran ibunya. ramses
2,181 total views, 3 views today
