Sepintas Pelaksanaan Proyek Perencanaan RS Jantung dan Otak Riau
Riau, Indonesia–Jangankan untuk memperoleh akses informasi atau melakukan konfirmasi oleh wartawan, pelaksanaan pekerjaan fisik saja sudah benar-benar tertutup.
Itulah keberadaan pembangunan Rumah Sakit Unit Pelaksana Teknis (RS UPT) Vertikal Riau yang kini tengah berlangsung di Jalan Naga Sakti, Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Binawidya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
Area kerja pembangunan rumah sakit benar-benar tertutup rapat-rapat oleh pagar yang mengelilinginya.
Tak cukup sampai di situ, di area lahan yang sudah dikelilingi pagar, di dalam masih ada pagar lagi yang menghalangi pandangan mata, khusus bangunan utama yang tengah dikerjakan.
Dari keadaan itu, apa saja pekerjaan fisik yang lagi beraktivitas di sana, sama sekali tak terjangkau oleh pandangan mata meski dengan posisi penglihatan dari luar pagar area kerja.
Dengan kata lain, secara sederhana, misalnya alat apa saja yang digunakan dalam pelaksanaan pembangunan RS UPT Vertikal Riau yang acap disebut Rumah Sakit Jantung dan Otak itu, sama sekali tak dapat dilihat karena dikelilingi pagar yang berlapis-lapis. Kalaupun ada peralatan kerja yang dapat terjangkau pandangan mata dengan jelas dari luar area kerja, cuma tower crane.
Menurut catatan dataprosa.com yang belum di-validasi melalui konfirmasi, kapasitas minimal tower crane yaitu 2, 5 ton dengan tinggi 74 Meter. Selain tower crane, peralatan lain yang mungkin bisa dilihat dari luar pagar, yakni mobile crane. Untuk tower crane, tampak menjulang kira-kira 74 meter itu tadi.
Pembangunan RS UPT Vertikal Riau jelas-jelas menggunakan dana publik. Untuk pembangunan fisik saja, yakni pekerjaan “Konstruksi Fisik dan Bangunan Pembangunan Rumah Sakit UPT Vertikal Riau,” berbiaya Rp663.243.270.000,00 (Enam ratus enam puluh tiga miliar dua ratus empat puluh tiga juta dua ratus tujuh puluh ribu rupiah). Biaya ini belum termasuk untuk proyek “Perencanaan Konstruksi Pembangunan RSUPT Vertikal Riau” Rp12.942.389.100,00 dan kegiatan “Manajemen Konstruksi” yang menelan biaya Rp12.145.287.000,00.
Duit pembangunan rumah sakit berbiaya lebih dari setengah triliun rupiah merupakan dana publik berasal dari rakyat yang antara lain berupa pajak dan bukan pajak. Dari kegiatan berbiaya Rp663.243.270.000,00 itu sebagian digunakan untuk membayar gaji karyawan dari pihak perusahaan dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kementrian Kesehatan (Kemenkes) yang disebut-sebut bernama Cipta Harisma. Penghasilan sah dan resmi itu kemudian oleh masing-masing karyawan atau pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) itu untuk membiayai hidup masing-masing keluarga.
Namun apa yang mereka kerjakan tidak dapat dilihat khalayak. Publik tidak dapat, misalnya, sekadar menyaksikan bagaimana jalannya proses pembangunan, paling tidak dari luar area kerja.
Untuk memperoleh akses informasi pun, baik dari pihak rekanan maupun Kementrian Kesehatan (Kemenkes), juga tertutup rapat-rapat. Hal ini dapat diketahui, dataprosa.com yang sudah berkali-kali ke lokasi proyek untuk melakukan validasi data sekaligus konfirmasi, langsung dihadang pihak keamanan. Bahkan dataprosa.com yang mencoba permisi masuk ke area kerja guna mengambil foto, sama sekali tidak diperbolehkan. Sedangkan, siapa yang bertugas selaku Humas baik dari pihak perusahaan maupun Kemenkes, juga tidak diketahui.
Sebagaimana yang sudah disebutkan, ada tiga kegiatan dalam membangun RS UPT Vertikal Riau. Data dan informasi ketiga kegiatan yang ada pada dataprosa.com, untuk divalidasi melalui konfirmasi, selalu menemui jalan buntu.
Dari catatan dataprosa.com yang belum di-validasi melalui konfirmasi, dalam menjalankan kegiatan “Perencanaan Konstruksi Pembangunan RSUPT Vertikal Riau,” dikerjakan oleh PT Penta Rekayasa selaku pemenang lelang yang beralamat di Bandung, Provinsi Jawa Barat (Jabar). Dengan biaya kira-kira Rp12.942.389.100,00. Pada pelaksanaan tender 2024, PT Penta Rekayasa mengajukan penawaran Rp13.635.079.050,00.
Tercatat bahwa yang bekerja di PT Penta Rekayasa merupakan pilihan dari pelbagai Tenaga Ahli yang bekerja pada bagian Team Leader, Penyusunan Studi Kelayakan, Penyusunan Master Plan Rumah Sakit, dan Penyusunan Perencanaan Teknis (DED). Puluhan tenaga ahli yang melaksakan proyek perencanaan itu terdiri dari pelbagai disiplin ilmu. Mulai dari Strata 1 (S1) Teknik Arsitektur, S1 Teknik Lingkungan, S1 Teknik Mesin, S1 Teknik Elektro/IT, S1 Teknik Planologi, S1 Teknik Sipil, S1 Teknik Geologi, dan S1 Teknik Geofisika.
Tenaga Ahli lainnya yakni S2 MARS, S1 Ekonomi/Akuntansi, S1 Kesehatan Masyarakat, S1/D4 Teknik Ekektromedik, S1 Teknik Sipil/Struktur/Bangunan Gedung, S1 Teknik Telekomunikasi, S1 Desain Interior, S1 Teknik Arsitektur Landskap, S1/D4 Geoteknik, S1 Sosial/Antropologi/Budaya, S1 Teknik Kimia, S1 Teknik Biologi, dan lain-lain. Sedangkan lulusan SMA yang dipekerjakan di sana hanya 2 orang Sopir dan 2 Sekretaris Administrasi/Keuangan.
Berdasarkan data tersebut, rata-rata yang diterima bekerja pada pekerjaan perencanaan itu yang sudah berpengalaman 5-7 tahun.
Yang patut menjadi catatan, pada pelaksanaan pekerjaan perencanaan itu ada item biaya untuk “Pengumuman di Media Massa,” yang tercatat pada Pos “Biaya Sewa dan Peralatan Kantor” yang terdiri dari satu paket.
Item “Pengumuman di Media Massa” itu tercatat pada “Biaya Sewa dan Alat Kantor” pada nomor urut 2. Sedangkan “Biaya Sewa dan Alat Kantor” untuk nomor urut tiga, yakni peralatan kantor yang terdiri dari Biaya Sewa Komputer PC sebanyak 30 unit per bulan; Biaya Sewa Notebook/laptop 75 unit per bulan; Biaya Sewa Printer A3 15 unit per bulan; Biaya Sewa Printer A4 15 unit per bulan; Sewa Plotter 5 unit per bulan; Sewa Digital Kamera Resolusi Tinggi 5 unit per bulan; Sewa Scanner A3 5 unit per bulan; Sewa Scanner A4 5 unit per bulan; dan Biaya Akat Tulis Kantor 10 set serta Biaya Komunikasi 5 set.
Pada Spesifikasi pekerjaan kegiatan perencanaan ini, juga tercatat ada biaya Perjalanan Dinas bolak-balik Jakarta–Pekanbaru sebanyak 60 orang. Kemudian dalam “Pembahasan Laporan” ada alokasi “Biaya Rapat Koordinasi” untuk 1.750 orang. red
1,445 total views, 3 views today
