Tamasya ke Danau Bokuok, Wisata Budaya?

Kampar, Indonesia–Selasa pagi, menjelang tengah hari, 16 April lalu, dari Kota Pekanbaru dataprosa.com bersama Ruslan Hutagalung, Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat Kesatuan Pelita Bangsa (LSM KPB) jalan-jalan ke Danau Bokuok, Desa Aur Sati, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dengan berkendara roda dua, perjalanan dari ibu kota provinsi ke sana tak sampai satu jam.

Begitu memasuki area anjungan danau dan sekitarnya, suasana nyaman pun terasa. Di antara danau dengan anjungan, dibatasi oleh pagar yang dilengkapi handrail (susur tangan). Dari pinggiran danau itu pengunjung dapat mengamati bentangan kawasan danau yang luas.

Tapi mengarahkan pandangan ke permukaan air Danau Bokuok yang membentang, tidak seperti menikmati panorama danau pada umumnya seperti danau Singkarak, Maninjau atau pun Danau Toba, dan lain-lain.

Di Danau Bokuok, banyak bermunculan rumput-rumput liar dan gulma, akibat danau yang mengalami pendangkalan. Bahkan menimbulkan kesan, di tengah danau “pulau-pulau mungil” yang dipenuhi rerumputan, menyebar di sana-sini.

Area bantaran danau langsung berbatasan dengan jalan desa yang beraspal, yang menghubungkan Desa Aur Sati dengan desa-desa lainnya.

Di sepanjang jalan yang posisinya di seberang di hadapan anjungan danau, terdapat berbagai warung, termasuk warung makan dan kopi.

Di anjungan danau dan sekitarnya, menjelang sore, dataprosa.com menyaksikan wisatawan lokal mulai bermunculan, bahkan ada yang berfoto-foto. Menurut Datuk Imus penduduk setempat kepada dataprosa.com, pada sore hari banyak pengunjung yang datang ke Danau Bokuok.

Di sana juga terdapat taman yang merupakan bagian dari kawasan danau.

Di anjungan atau sekitar taman di kawasan danau, memang ada tempat duduk. Namun sayangnya, di situ sama sekali tidak terdapat tempat berlindung seperti gazebo, misalnya. Pepohonan untuk dijadikan tempat menghindar dari terik matahari pun tidak terlihat.

Anjungan danau memang cantik sesudah Danau Bokuok mengalami revitalisasi. Tapi pada area taman, kondisinya tampak gersang. Rumput yang tumbuh di situ, liar dan tak terawat.

Berkunjung ke obyek wisata Danau Bokuok jika cuaca panas menyengat, pengunjung bisa kelimpungan. Kalau saja taman yang berada di areal danau ditanami pohon ketapang dan tabebuya seperti yang biasa terdapat di berbagai taman, umpamanya, yang masing-masing tingginya kira-kira 3 meter, setidaknya ada lokasi berteduh bagi wisatawan.

Usai berkeliling menyusuri area danau, dataprosa.com dan Ketua Umum LSM KPB pun nongkrong di salah satu warung. Lalu, tiba-tiba saja menjelang sore, hujan mengguyur deras. Para pengunjung di sana pun sekonyong-konyong berhamburan menuju ke warung terdekat gara-gara di kawasan atau pun anjungan danau memang sama sekali tak ada tempat berteduh.

Selain taman, di area danau juga terdapat jalan inspeksi dan bronjong yang memanjang yang posisinya melengkung mengitari danau mulai dari anjungan hingga ke spillway (Bangunan pelengkap yang berfungsi sebagai pengaman bahaya air banjir).
Lewat jalan inspeksi dan bronjong, itu dengan berjalan kaki para wisatawan dapat melihat dengan jelas dari dekat bagaimana “pulau-pulau mungil” yang ditumbuhi rerumputan, “berkeliaran” di permukaan air.

Tradisi Ma’awuo

Sumber pada Kemdikbud.go.id menyebutkan, dinamakan Danau Bakuok, karena arah untuk menuju danau tersebut jalannya berliku-liku dan berlobang-lobang yang dalam bahasa Ocu disebut sebagai balokuok-lokuok. Sehingga sampai saat ini masyarakat menamakannya ”Danau Bakuok.”

Jadi Ma’awuo Danau Bakuok artinya “secara bersama masuk ke dalam danau dan mangacau danau” untuk mencari ikan.

Menurut pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (Kemen PUPR RI), Danau Bokuok pada awalnya dari aliran sungai mati yang berasal dari Sungai Kampar dengan luas genangan 7 hektar. Kemudian oleh Kemen PUPR di-revitalisasi menjadi 21, 60 hektar.

Di Desa Aur Sati, tradisi Ma’awuo Danau Bokuok merupakan kebanggaan masyarakat setempat.

Sebagaimana dilansir dari Kemdikbud.go.id, Tradisi Ma’awuo Danau Bakuok merupakan tradisi turun-temurun dari para leluhur yang diperkirakan sudah berlangsung sejak seratus lima puluh tahun lalu.

Pada awalnya, niniok mamak mulai bersepakat untuk melarang mengambil ikan secara pribadi atau kelompok-kelompok kecil agar ikan tersebut tidak punah begitu saja melihat banyaknya ikan di Danau.

Lalu, mereka mengirim surat kepada masyarakat dan menancapkan pucuk enau yang dibuat gobah-gobah (bendera) dan dipasang di muara Danau Bakuok. Itu menandakan masyarakat tidak boleh lagi mengambil ikan sampai waktu yang ditentukan.

Hal itu dilakukan Ninikmamak agar ikan-ikan di danau dapat berkembang. Maka jika sudah sampai waktunya, masyarakat boleh mengambil ikan di danau tersebut secara bersama.

Pada masa dulu, tradisi Ma’awuo dilaksanakan menjelang bulan suci Ramadhan. Hasilnya dijadikan masyarakat sebagai persiapan menghadapi bulan suci Ramadhan. Di samping itu, hasil ma’awuo juga oleh masyarakat digunakan untuk membayar pajak pada masa Zaman Belanda (blastin).

Belakangan, sebagaimana penuturan Datuk Imus, Tradisi Ma’awuo sudah dua tahun tidak dilaksanakan warga setempat. “Sejak ada pekerjaan revitalisasi Danau Bokuok,” katanya.

Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) III memang melakukan revitalisasi Danau Bokuok mulai dari Tahap I pada 2022 dan Tahap II tahun 2023. Rencananya, akan berlanjut ke Tahap III. ramses lumban gaol

3,227 total views, 3 views today

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish