Hingga Kini, Keluarga Wilson Lumban Tobing Masih Terseok-Seok Mencari Keadilan Kematian Josua

Riau, Indonesia–Hampir satu setengah tahun sudah, pasangan suami-isteri Wilson Lumban Tobing dan Boru Marbun (Lumban Gaol) terseok-seok mencari keadilan atas misteri kematian anaknya, Prajurit Dua (Prada) Josua Lumban Tobing (22).

Lalu pada Senin (22/12-2025) pagi, dari pelosok desa kediamannya yang ada di Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau, keluarga mendiang Josua kembali sampai di Pekanbaru. Tetap lanjut mencari keadilan.

Didamping pengacaranya Freddy Simanjuntak di Pekanbaru, Wilson dan keluarga mendatangi Kodam XIX/Tuanku Tambusai dan Denpom 1/3 Pekanbaru.

Keluarga Winson menyebut, pihaknya ke Markas Kodam XIX/Tuanku Tambusai untuk melakukan koordinasi sekaligus menyampaikan keberatan resmi keluarga atas Laporan Hasil Penyelidikan yang diterbitkan oleh Polisi Militer.

Sebagaimana diketahui, almarhum Prada Josua Lumban Tobing ditemukan meninggal dunia 30 Juni 2024 di Gudang 1 Logistik Yonif 132/Bima Sakti. Fakta ini telah dituangkan dalam dokumen resmi Polisi Militer yang secara tegas menyebut adanya perkara kematian tidak wajar.

Selang beberapa waktu usai ke Markas Kodam XIX/TT, hari Senin itu juga Wilson dan keluarga menuju Denpom 1/3 Pekanbaru. Di sana, mereka ingin agar barang-barang milik Josua yang ditahan, dikembalikan. Satu di antaranya yakni 1 unit telepon seluler serta kunci sepedamotor dan lain-lain. Tapi keinginan keluarga Wilson belum bisa terpenuhi pada Senin (22/12-2025) itu.

Sebelumnya, selama lebih-kurang satu setengah tahun sejak kematian anaknya,
pasangan suami-isteri itu sudah menjelajahi berbagai jalan yang ada di Riau menuju gedung-gedung institusi terkait, mengadukan kematian anaknya itu yang menurut mereka diliputi kejanggalan-kejanggalan.

Bahkan jalan-jalan yang mereka telusuri sudah sampai ke berbagai institusi terkait di Jakarta. Namun keadilan yang mereka cari-cari belum berpihak atas kematian putera sulung dari tiga anak yang dibanggakan mereka itu.

Tak cukup sampai di situ, melalui pengacara keluarga korban, Freddy Simanjuntak yang bergelar pendidikan akademik Doktor di bidang Hukum Tata Negara itu pun sudah mengirimkan surat pengaduan ke Pangdam I/Bukit Barisan yang tembusannya ditujukan ke:

1. Irpuspomad
2. Irdam I/BB
3. Danrem 031/BB
4. Dansatidik Puspomad
5. Dirbinlidpamfik, Dirbindik Puspomad
6. Asintel Kasdam I/BB
7. Asintel Kasdam XIX/TT
8. Kakundam I/BB
9. Danyonif 132/BS
10. Dandenpom 1/3 Pekanbaru
11. Kaslidpamfik, Kaslidik Pomdam I/BB
12. DR Freddy Simanjuntak SH MH & Rekan Advocat/Pengacara

Saat Surat Pengaduan dikirim, Komando Daerah Militer (Kodam) XIX Tuanku Tambusai belum terbentuk. Kedatangan Wilson dan keluarga pada Senin (22/12-2025) ke Pekanbaru, karena di Ibu Kota Provinsi Riau ini sudah terbentuk Kodam yang baru, yaitu Kodam XIX/Tuanku Tambusai. Itu sebabnya mereka menindaklanjuti pengaduan yang pernah disampaikan ke Kodam I/Bukit Barisan menjadi ke Kodam XIX/TT.

Kematian Prada Josua memang masih tetap menjadi misteri hingga kini.

Memang, dari hasil penyelidikan interen institusi, Josua disebut-sebut melakukan kebohongan terhadap institusinya. Dia pernah minta izin ke luar daerah untuk menjenguk Opung (Kakek/Nenek)-nya yang meninggal dunia. Namun usut punya usut, yang meninggal itu Opung dari kekasih Josua bernama Juli Sihombing. Bukan Opung Josua. Dari sini, situasi yang dialami Josua pun menjadi runyam.

Namun di sisi lain, Josua justeru disebut-sebut mengalami depresi gara-gara urusan cinta dengan kekasihnya Juli itu tadi. Sehingga Josua sampai-sampai melenyapkan nyawanya dengan cara gantung diri? Padahal, dari keterangan pihak keluarga maupun Juli sendiri, hingga kepergiannya Josua dan Juli tidak ada masalah.

Ayah mendiang Josua pun bertanya-tanya. Masa, putera sulungnya harus mati karena berbohong?

Selaku prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) baik fisik maupun mental, Josua juga sudah menjalani penggemblengan sedemikian rupa.

Lalu, apa iya, tiba-tiba saja gara-gara urusan cewek mentalnya amblas kemudian depresi yang berujung kepada meregang nyawa? Jika kabar ini benar, bisa jadi Josua adalah oknum prajurit TNI yang pertama yang mentalnya amblas karena urusan asmara, putus cinta mati bunuh diri.

Waktu yang dijalani pasangan Wilson dan Marbun sudah berlangsung kira-kira satu setengah tahun dalam upaya mencari keadilan namun belum juga tuntas hingga berita ini tayang.

Rasa keadilan yang diharapkan Wilson dan keluarga akan berlangsung beres, kalau saja Prabowo Subianto selaku Presiden yang dibanggakan rakyat Indonesia mau memberi perhatian serius dan mengambil sikap tegas. red

1,488 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia