Demo Kasus Anak Korban Buli: Nyali Anggota DPRD Riau Andi Darma tidak Ciut
Riau, Indonesia–Pada 26 November 2025, tepat enam bulan sudah, Gimson Beny Butarbutar kehilangan anaknya Kristofel, korban buli disertai tindak kekerasan oleh rekan-rekan sekolahnya.
Kristofel (8) pelajar kelas 2 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau meninggal pada Senin, 26 Mei 2025 lalu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari, Pematang Reba, Inhu pasca mengalami buli dan tindak kekerasan dari rekan-rekannya di sekolah mereka.
Sejak kematian anaknya hingga kini, Gimson merasa kurang puas. Karena selama ini menurut dia, belum ada hasil tindakan hukum yang nyata terhadap peristiwa kepergian anaknya itu. Kasusnya seolah mengendap, bak ditelan bumi.
Lalu, pada 26 November 2025, itulah dia kemudian mendatangi gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Riau, Jalan Jendral Sudirman, Kota Pekanbaru melakukan aksi unjuk rasa, menuntut keadilan. Gimson didukung Gerakan Masyarakat Peduli Perlindungan Anak (Germas PPA) dan mahasiswa yang keseluruhannya diperkirakan lebih dari 30 orang.
Aksi unjuk rasa Gimson beserta pendukungnya berlangsung di Gedung Parlemen Riau itu dimulai pada pukul 10.00 WIB. Gimson menuntut agar pihak sekolah bertanggung jawab. Dia menilai, pihak sekolah terlebih Wali Kelas anaknya dan Kepala sekolah, hingga kini seakan lepas tangan.
Ada kira-kira tiga jam mereka yang melakukan unjuk rasa “dicuekin” di luar pagar oleh pihak DPRD Riau. Para pendemo tidak diperkenankan memasuki Komplek Gedung DPRD. Langkah mereka terhalang pagar. Aksi demo dijaga ketat aparat kepolisian setempat dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Riau.
Dalam orasinya, pelaku demo antara lain meminta untuk bertemu Ketua DPRD Riau Kaderismanto dan anggota DPRD Riau dari Daerah Pemilihan (Dapil) Inhu, Daniel Eka Perdana, tapi tak ditanggapi.
Namun akhirnya, sesudah kira-kira tiga jam, ada juga anggota dewan yang bersedia dan berani, “tidak takut” menemui para pendemo. Nyalinya sama sekali tidak ciut. Dialah Andi Darma Taufik, anggota Komisi I yang antara lain membidangi Hukum.
Dari pengamatan dataprosa.com di dalam gedung para wakil rakyat Riau itu berkantor, meski di luar pagar gedung DPRD tengah berlangsung aksi unjuk rasa, Andi tidaklah bersembunyi, apalagi ngumpet.
Andi kemudian bahkan mendatangi dan berdialog dengan para aksi unjuk rasa, dengan posisi masih di luar pagar pintu-masuk Komplek DPRD. Dialog berlangsung lancar. Para peserta demo pun melampiaskan segala uneg-uneg mereka kepada anggota dewan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (FPDI) Perjuangan itu. Tampak Andi mendengar satu per satu keluhan mereka dan membiarkan pendemo berbicara. Sesekali Andi berkomentar dan memberi tanggapan.
Tak berapa lama kemudian, kader Partai PDI Perjuangan itu mempersilakan mereka memasuki komplek gedung DPRD Riau. Tapi untuk ke Ruang Medium tempat berlangsungnya pertemuan dengan para pendemo, Andi meminta agar diwakili 10 orang saja. Peserta aksi menyetujuinya. Dialog pun dimulai di Lobi Medium itu kira-kira pukul 13.17 WIB.
Dari penelusuran dataprosa.com, tak satu pun dari peserta unjuk rasa yang sudah makan siang saat pertemuan berlangsung. Wartawan dataprosa.com mengetahui hal ini, karena lapar usai pertemuan dengan Andi anggota Komisi I DPRD Riau itu seluruh peserta demo langsung makan siang (lebih tepat rasanya disebut “makan sore”) di salah satu rumah makan di Jalan Setia Maharaja, Pekanbaru, dengan biaya sendiri.
Pada pertemuan yang juga diikuti langsung Gimson, pengunjuk rasa menyampaikan 10 tuntutan secara tertulis dan diterima Andi. Dalam dialog Gimson menekankan, agar Kepala Sekolah dan Wali Kelas di sekolah almarhum anaknya itu segera “dicopot.” Gimson menegaskan, dirinya tidak menghendaki anak-anak pelaku buli terhadap puteranya itu dipenjara. “Namun keadilan harus ditegakkan,” kata Gimson.
Andi berjanji, apa yang disampaikan pengunjuk rasa akan ditindaklanjuti. Dirinya akan mengawal tuntutan mereka.
Para rakyat pelaku unjuk rasa yang hadir selaku tamu menjumpai wakil rakyat pada pertemuan tersebut, cuma disuguhi oleh pihak Sekretariat Dewan (Setwan) satu botol-mini air mineral ukuran 330 mili liter (lihat foto inzet). Itu pun tak semua yang hadir di ruangan tersebut diberikan. Dan sekadar referensi, menurut catatan dataprosa.com yang belum di-validasi melalui konfirmasi, pada tahun anggaran 2025 Belanja Makan-minum di DPRD Riau kira-kira Rp40 miliar. Lalu, untuk tahun anggaran yang sama, Belanja Makanan dan Minuman Jamuan Tamu Rp7.174.200.000 (Rp7, 17 miliar lebih). red/p-01
690 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
