Wali Murid SMAN 17 Pekanbaru: Pemulung, Tukang Kopek Bawang, Jualan…

Riau, Indonesia–Lebih dari 400 murid menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 17 Pekanbaru, Provinsi Riau. Mereka terdiri dari kelas X, XI, dan XII.

Kepada dataprosa.com Elmida Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 17 di ruang kerjanya di gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Riau di Pekanbaru, Selasa (9/9-2025) menyebut, dari jumlah siswa-siswi kini, kondisi kehidupan orang tua mereka diperkirakan 70 persen golongan ekonomi menengah ke bawah. Menurut Elmida, anak-anak mungkin kurang perhatian dan kasih sayang.

Bahkan karena situasi ekonomi orang tua yang sulit, tak jarang anak dibiayai dan tinggal di tempat famili: mulai dari amang tua (paman) hingga opung (kakek-nenek)-nya. Ada juga anak-anak yang yatim-piatu.

Mulai dari awal eksistensi pelajar SMAN 17, orang tua para murid pun terdiri dari beragam profesi: pemulung (pencari kara-kara), tukang ojek, berjualan di pasar; tukang kopek (penyortir) bawang dan cabe di pasar induk yang berlokasi di Terminal Bandar Raya Payung Sekaki (BRPS), Pekanbaru dan lain-lain yang beraktivitas pada ekonomi sektor informal.

“Semua anak lahir di Pekanbaru,” ungkap Elmida.

Dalam menjalankan program, Elmida menceritakan, pihak sekolah tidak bisa menyamakannya dengan sistem pendidikan di sekolah-sekolah yang sudah “besar.” Jadi, “Perlakuan kita berdasarkan kemampuan anak, sesuai dengan kompetensi yang ada pada diri siswa,” terang Kepsek asal Dumai itu.

Dia memaparkan, kalau orang tua dari golongan ekonomi atas, yang sudah mapan, anak-anak ada yang mengikuti les atau bimbingan belajar (Bimbel) di luar sekolah. “Kalau ini (murid SMAN 17, red), kan, seratus persen mengharapkan ilmu dari guru. Dari segi ilmu, mereka bergantung pada sekolah,” sebutnya.

Dalam mendidik anak agar mandiri dan maju, pihak sekolah berusaha memberi dorongan psikologis. “Sekolah berupaya keras memotivasi para anak,” ucapnya.

Selama memimpin SMAN 17, pada prinsipnya, kata Elmida, pihak sekolah tidak mengalami kendala dalam mendidik anak. Kalaupun ada kesulitan, kadang guru-guru memang mengulang pelajaran yang lama, yang belum juga dipahami murid. “Kalau di pendidikan akademik, kita memang tidak ada masalah,” ucap wanita berjilbab itu.

Tapi, murid SMAN 17 banyak juga, kok, yang pintar. Bahkan mampu mengharumkan nama sekolah dalam berbagai perlombaan. Misalnya, dalam perlombaan “debat.” Yang didebat, yakni isu-isu terkini pemerintahan terkait konstitusi.

Menjelang akhir 2024 lalu, Elmida mengisahkan, SMAN 17 Pekanbaru terpilih dalam empat besar se-Pulau Sumatera pada perlombaan Debat Konstitusi.

“Tiga-tiganya orang Batak,” ujarnya bangga, menjelaskan tiga anak-didiknya yang mengharumkan nama SMAN 17 Pekanbaru dalam urusan perlombaan debat konstitusi.

Sebagaimana diketahui, meski gedung SMAN 17 sudah dibangun di Jalan Fajar Raya lebih dari dua tahun, namun kegiatan belajar-mengajar mulai dari kelas X, XI hingga kelas XII masih menumpang di gedung Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Riau di Pekanbaru. p-01

1,455 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia