Jalan-Jalan ke Istana Sayap
Istana sayap di Pelalawan
Pelalawan, Indonesia – Bagi masyarakat umum, terlebih budayawan atau pun pemerhati sejarah, Istana Sayap merupakan salah satu alternatif yang menarik untuk dikunjungi. Istana ini merupakan peninggalan sejarah kesultanan Pelalawan yang pernah berkuasa.
Pernah dipugar karena terbakar, bangunan tua peninggalan dari raja-raja Pelalawan itu hingga kini masih berdiri kokoh. Lokasinya di Desa Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau.
Menurut Susi Amiliana Kepala Bidang (Kabid) Pariwisata, Dinas Kebudayaan Periwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, kepada Tabloid BOS di ruang kerjanya, Rabu (12/9-2018) lalu, ada pun keistimewaan obyek wisata Istana Sayap yakni sejarah dan budayanya. Dan akses prasarana jalan ke lokasi Istana Sayap, kata Susi, sudah bagus, meski dirinya mengakui bahwa kendaraan umum menuju ke sana memang belum ada.
“Istana Sayap itu merupakan peninggalan sejarah Melayu. Di Desa Pelalawan itu merupakan makam raja-raja Pelalawan, termasuk di samping Istana Sayap. Ada juga benda-benda peninggalan bersejarah di Istana Sayap,” ucapnya.
Susi menginformasikan, jika kedatangan calon wisatawan diberitahukan kepada pemerintah Kabupaten (Pemkab), maka akan diadakan acara penyambutan. Di lokasi Istana, pihak Pemkab memiliki guides (pemandu wisata) untuk memberikan penjelasan seputar Istana Sayap, seperti asal mula Kerajaan Pelalawan, benda-benda peninggalan bersejarah kesultanan atau budaya seputar Pelalawan.
Berdasarkan catatan Tabloid BOS yang dirangkum dari berbagai sumber, pada awalnya pusat kerajaan Pelalawan berada di Sungai Rasau (anak sungai Kampar), berlokasi di “Kota Jauh” dan “Kota Dekat.” Pada saat Tengku Besaar Sontol Said Ali (1886 – 1892 M) naik tahta menjadi Sultan Pelalawan, dia berazam memindahkan istananya dari sungai Rasau ke pinggir sungai Kampar, tepatnya di muara Sungai Rasau yang disebut “Ujung Pantai.”
Namun manakala Sultan Syarif Hasyim II melanjutkan pembangunan Istana yang masih terbengkalai karena mangkatnya Sultan Tengku Sontol Said Ali, maka dia membangun dua sayap di samping kanan dan kiri Istana, yang dijadikan Balai. Maka Istana ini pun dinamakan Istana Sayap. Bangunan di sebelah kanan Istana (sebelah hulu) disebut “Balai Sayap Hulu” yang berfungsi menjadi kantor Sultan dan bangunan di sebelah kiri Istana (sebelah hilir) dinamakan “Balai Hilir” yang berfungsi sebagai Balai Penghadapan bagi seluruh rakyat Pelalawan.
Sekitar tahun 1896, bangunan Istana Sayap selesai seluruhnya, dan Sultan Syarif Hasyim II berpindah dari Istana “Kota Dekat” di sungai Rasau ke Istana Sayap di Ujung Pantai. Sejak itu, pusat pemerintahan kerajaan Pelalawan menetap di pinggir Sungai Kampar yang sekarang menjadi Desa Pelalawan, ibukota Kecamatan Pelalawan.
Selain bangunan utama Istana Sayap, di sekitar istana juga terdapat beberapa peninggalan sejarah terkait, seperti Masjid Hibbah. Masjid ini dibangun pada 1936, semasa pemerintahan Regent Tengkoe Pangeran Said Osman (1930–1941). Lokasi Masjid ditetapkan di pinggir sungai Naga Belingka, mengingat tempat tersebut tak jauh dari bangunan Istana Pelalawan dan rumah kediaman Sultan. Masjid Hibbah berada di tengah-tengah dan mudah ditempuh dari segala permukiman, baik dengan berjalan kaki maupun menggunakan perahu.
Kata “Hibbah” nama masjid tersebut diambil dari makna “pemberian” (sumbangan). Karena masjid memang dibangun dari keikhlasan masyarakat Pelalawan waktu itu yang bergotong royong tanpa terkecuali tua dan muda, laki-laki dan perempuan. Pelaksanaan pekerjaan berlangsung siang-malam tanpa paksaan. Bahkan pada kegiatan tersebut Sultan dan para pembesar kerajaan pun ikut bekerja bersama rakyatnya.
Sebagian besar bahan bangunan terbuat dari “teras laut,” kayu pilihan yang sengaja dipesan, sebagian lagi diramu oleh pemuda-pemuda di kawasan hutan. Sedangkan semen untuk tiang, kaca pintu, atap dan timah campuran bahan qubahnya merupakan sumbangan Sultan.
Di samping Masjid Hibbah, peninggalan sejarah lainnya terkait eksistensi Istana Sayap, terdapat Meriam Perang. yang letaknya tak jauh dari bangunan istana, tepatnya di bagian hulu. Di sana dapat dijumpai tempat sebagian meriam peninggalan Kerajaan Pelalawan. Sebagian meriam berwarna kuning dan lainnya berwarna hitam. Dulu, meriam ini merupakan fasilitas pertahanan utama yang digunakan Kerajaan Pelalawan saat berperang melawan musuh.
Peninggalan lainnya, yakni Komplek Pemakaman Raja. Komplek ini terdiri dari tiga bagian, yang masing-masing terpisah beberapa puluh meter dan memiliki bangunan pelindung sendiri-sendiri. Yakni makam Raja, makam “Dekat” dan makam “Jauh.”
Pemakaman utama disebut makam raja, terletak sekitar 50 meter dari Istana Sayap, tepatnya di belakang Masjid Hibbah. Di sini, bersemayan tiga Raja Pelalawan, di antaranya Sultan Syarif Hasyim (1894-1930), Regent Tengkoe Pangeran Said Osman (1931-1940), dan Sultan Syarif Haroen (1940-1946).
Untuk pemakaman Raja yang bernama makam “Jauh” dan makam “Dekat,” merupakan lokasi makam para raja, para alim ulama, pembesar kerajaan, orang-orang yang berjasa serta kalangan keluarga dekat kerajaan.
Hubungan Kesultanan Pelalawan–Siak
Keberadaan Kesultanan Pelalawan, erat kaitannya dengan sejarah Kerajaan Siak. Bahkan Sultan Pelalawan masih memiliki pertalian darah dengan “Abangnya,” Kesultanan Siak. Kepada Tabloid BOS, Susi membenarkan adanya hubungan kekerabatan itu.
Jauh sebelumnya, Kerajaan Pelalawan merupakan bagian dari Kerajaan Johor. Tapi begitu lepas dari ikatan Kerajaan Johor, Kerajaan Pelalawan diserang oleh Kerajaan Siak pada masa pemerintahan Sultan Syarif Ali (1784-1811 M). Serangan yang dipimpin oleh Said Abdurrahman, adik Sultan Syarif Ali Raja Siak, dapat menaklukkan kerajaan Pelalawan.
Selanjutnya, Sultan Said Abdurrahman melakukan ikatan persaudaraan yang disebut “Begito” (pengakuan bersaudara dunia akhirat) dengan Maharaja Lela II, yakni Raja Pelalawan pada saat itu.
Said Abdurrahman kemudian dinobatkan menjadi Raja Pelalawan dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Fakhruddin (1798-1822 M). Sejak itu, kerajaan Pelalawan diperintah oleh raja-raja keturunan Said Abdurrahman, saudara dari Syarif Ali, Sultan Siak, sampai kepada Raja Pelalawan terakhir.
Lantas, atas dasar integritas yang tinggi dan demi menjaga kemakmuran rakyat Pelalawan, pada tahun 1946 Sultan Syarif Harun mendarmabaktikan Pelalawan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Sesudah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Sultan Syarif Harun bersama Orang-orang Besar bersepakat menyatakan diri dan seluruh Rakyat Pelalawan ikut ke dalam Pemerintahan Republik Indonesia, dan siap sedia membantu perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada tanggal 7 Agustus 2008, Lembaga Kerapatan Adat Melayu, Kabupaten Pelalawan mengangkat Tengku Kamaruddin Haroen bin Sultan Syarif Harun sebagai Sultan Pelalawan ke-10, dengan Gelar Sultan Assyaidis Syarif Kamaruddin Haroen. ram
Dikutip dari Tabloid BOS (Bacaan Orang Sukses) edisi 330
7,076 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
