Pemred Antah Berantah Plus

Menjelang tengah hari, sudah muncul Prayudha, Bramantara dan Klaranda di  warung Sonya. Klaranda sendiri sebenarnya sudah tiga hari tidak hadir di warung Sonya. Kali ini dia merasa, ada perubahan di warung langganannya itu. Klara melihat, kini Sonya memiliki asisten, membantu mengurusi dagangannya. Wartawati asal Riau itu kemudian mengonfirmasikan kehadiran gadis yang mendampingi si Janda Sintal itu.

“Hmmm.  Kelihatannya, ada karyawan baru, nih, Sonya. Siapa dia?” tanya Klara.

“Namanya Sri Danarsih. Tetanggaku. Baru lulus SMA. Belum dapat kerja,” balas Sonya. Janda tanpa anak ini kemudian melanjutkan, “Kau bisa lihat sendiri, Klara. Aku sudah tidak sanggup lagi melayani pelanggan. Apalagi para pegawai kantor yang dekat-dekat sini, sudah makin ramai yang memesan minuman atau pun makanan. Jadi, untuk sementara, aku minta tolong sama Sri Danarsih agar membantuku. Sebelum dia dapat kerja,” ujar Sonya.

“Ooo. Kalau begitu, baguslah. Itu artinya, daganganmu makin maju,” Klara menanggapi.

“Yahhh. Begitulah,” ucap Sonya, kemudian menghela nafas agak panjang.

Udara di Kota Pekan Tua, ibukota Provinsi Antah Berantah, hari ini cukup cerah. Sebagian warga Pekan Tua acapkali menyebut kota ini sebagai “Kota Tua.” Mungkin hal itu ada hubungannya dengan motto kota Pekan Tua itu sendiri, yakni “TUA.” Artinya, “Tertib, Unik dan Aman.” Pihak Pemerintah Kota belakangan ini memang gencar mempromosikan motto “TUA” itu tadi.

Tiba-tiba seorang pria masuk ke warung Sonya. 

            “Eh, Galaxy! Tidak biasanya kau ke sini,” sapa Rakarada begitu pria bernama Galaxy itu memasuki warung. “Duduklah. Sudah lama kita tidak bertemu. Mau minum apa?” tanya Rakarada.

            Sebelum duduk, terlebih dahulu Galaxy menyalami para wartawan dan aktivis LSM (Lembga Swadaya Masyarakat) yang ada di situ.

            Dari seluruh rekan Klara yang ada, hanya Rakarada yang kelihatannya mengenal dekat Galaxy. Dulu, Galaxy sesekali datang juga ke warung Sonya. Tapi selalu berdua dengan Rakarada.

Rakarada kemudian mengarahkan pandangannya ke Sonya.

“Sonya, tolong berikan minum sobat saya ini,” Rakarada meminta Sonya agar memberikan minuman kepada tamunya itu. Galaxy meminta dibuatkan teh es. Sonya pun memerintahkan Sri Danarsih memenuhi keinginan Galaxy.

Sekira empat bulan sebelum kedatangannya ke warung ini, Galaxy masih “menempel” terus dengan Rakarada, belajar menjadi wartawan di Provinsi Antah Berantah, Republik Ilusi (RI). Galaxy sering mengekor saat Rakarada melakukan wawancara atau pun ketika menjalankan liputan investigasi. Kali ini rupanya Galaxy sudah “berani” datang sendiri ke kantin milik Sonya si Janda Sintal. Berani ngumpul dengan para wartawan maupun aktivis LSM.

Galaxy kemudian membuka tasnya. Mengeluarkan beberapa eksemplar tabloid Antah Berantah Plus edisi perdana, terbitan kota Pekan Tua. Dengan perasaan bangga, Galaxy membagi-bagikan tabloid itu kepada seluruh wartawan dan LSM yang kebetulan nongkrong di warung Sonya.

Prayudha, wartawan mingguan Antah Berantah Pos mengamati lembar demi lembar tabloid yang diberikan Galaxy.

“Hahh? Kau rupanya pemilik koran ini, Galaxy. Mantap! Kau lebih hebat dari aku, bisa bikin media cetak,” ujar Rakarada merendah, sambil matanya tak lepas dari susunan redaksi yang terletak di boks redaksi tabloid Antah Berantah Plus. Pada halaman pertama, di sudut kiri atas, tercatat nama “Galaxy” sebagai Pendiri. Lalu, di halaman dua, pada boks redaksi, jabatan “PemimpinUmum/Pemimpin Redaksi” juga tertulis nama “Galaxy.”  

Galaxy menanggapi kata-kata Rakarada dengan senyum hambar.

Rakarada tak menyangka kalau pria yang ada di sampingnya itu mampu bikin media cetak. Bahkan di benak Rakarada timbul pelbagai pertanyaan. Bagaimana mungkin Galaxy memiliki kemampuan sebagai Pemimpin Redaksi satu tabloid mingguan. Bikin berita saja masih keteteran. Karena Rakarada tahu persis sampai sejauhmana kemampuan Galaxy menyusun berita. Selama ini, Rakarada sering membimbing Galaxy untuk memahami teknik-teknik dasar membuat berita, yang menurut perkiraan Rakarada, hingga kini belum dikuasai Galaxy sepenuhnya.

Tiba-tiba saja Galaxy menjadi “Pemimpin Redaksi (Pemred).”

Selaku pemilik (owner) sekaligus pendiri Antah Berantah Plus, Galaxy mengangkat dirinya menduduki jabatan tertinggi di keredaksian.

Pelan-pelan Galaxy meneguk teh es yang disodorkan Sri Danarsih tadi. Lalu dia pun  buka suara.

“Parah!” ujar Galaxy mengarahkan pandangannya ke Rakarada.

Hampir semua orang yang mangkal di warung Si Janda Sintal mengarahkan pandangan ke Galaxy. Ada yang terkejut, malah.

“Apa yang parah, Galaxy?” Rakarada ingin tahu.

“Wartawan daerah dari berbagai kabupaten yang kirim berita lewat email ke redaksi Antah Berantah Plus, tak satu pun yang beres. Berita mereka hancur!” ujar Galaxy. Selaku Pemimpin Redaksi, kini Galaxy memosisikan diri orang yang sangat memahami soal penulisan berita. Frekuensi suara Galaxy sengaja dikeraskan lebih satu oktaf agar orang-orang yang ada di kantin Sonya mengetahui bahwa dirinya sekarang sudah menjadi bos penerbit tabloid.

Rakarada pun sekonyong-konyong melongo mendengar ucapan Galaxy. Wajah Rakarada kelihatan masam.

“Berita kawan-kawan dari daerah itu semuanya berantakan! Tidak jelas mana ‘kepala,’ mana ‘ekor.’ Babak belur!” kata Galaxy dengan pongahnya, merendahkan kemampuan para wartawannya sendiri. Bahkan seolah-olah Pemimpin Umum Antah Berantah Plus ini sudah merasa lebih berkompeten selaku wartawan ketimbang para wartawan yang ada di Antah Berantah. Para wartawan Antah Berantah itu beberapa di antaranya kini ada di kantin Sonya.

Mendengar ucapan-ucapan Galaxy, mendadak saja Rakarada merasa perutnya mual. Mau muntah. Dari mana pula si Galaxy ini memiliki legitimasi bahwa dirinya mempunyai skill dalam urusan pembuatan dan mengedit berita?

“Para Redaktur-ku pun, belum paham mengedit berita. Terpaksa aku yang mengedit semua berita wartawan yang masuk ke redaksi,” katanya pula. Saat mengeluarkan kalimat-kalimatnya ini, dia mengangkat dagunya agak ke atas. Kesan sombong pun menjadi kental.

Bram yang dari tadi mengamati kelakuan Galaxy, sekonyong-konyong tertawa.

“Ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka,” suara Bram menggelegar, menirukan gaya tawa Popey, tokoh utama filem animasi Popey the Sailor Man, Popey si Pelaut.

“Husss!” Klara menghardik. “Apa maksud tawamu, itu Bram?” Wartawati si Rambut Panjang menegur Bramantara dengan mata melotot.

“Ah, tidak ada maksud apa-apa, Klar,” jawab Bram. Lalu Bram berdiri, menyorongkan tangannya, dan disambut oleh Galaxy. Mereka bersalaman. “Selamat, ya, Kawan, atas terbitnya Antah Berantah Plus,” ucap Bram.

Mendadak Rakarada menepuk jidatnya sendiri menyaksikan tingkah Bram.

Usai Bram berjabat tangan dengan Galaxy, suasana kemudian hening beberapa saat.

Rakarada pun asik mengamati berita-berita yang ada di Antah Berantah Plus.

Kening Rakarada sempat berkerut saat matanya membaca salah satu berita. Kalimat-kalimat pada berita tersebut, tak jelas mana “kalimat langsung” dan “tidak langsung.” Penggunaan tanda “petik” pun, menurut pengamatan Rakarada, serampangan. Editornya sama sekali tidak memahami bagaimana menggunakan tanda “petik.” Itu artinya, otomatis si Pemred juga tidak mengetahui sampai sejauhmana kemampuan anak buahnya dalam mengelola keredaksian.

“Ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka,” kembali tawa Bram meledak, sambil tangannya memegang Antah Berantah Plus dengan mata mengarah ke halaman berita.

“Husss!” ulang Klara membentak Bram. Lagi, mata Wartawati itu mendelik ke arah konconya itu. Bramantara pun mendadak diam. Menghentikan tawanya.

4,030 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia