Kaum Moralis
Oleh: Ramses Marbun
Pukul 12 siang lewat beberapa menit, di warung Sonya sudah ada Prayudha, wartawan mingguan Antah Berantah Pos, Klaranda, wartawati media online, universallirik.com, Rakarada, wartawan media online indigofiles.com, dan Bramantara, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) “Pemantau Aset Negara” (PAN).
Siang itu, beberapa nama yang biasa nongkrong di sana, di Antah Berantah, tidak tampak seperti Munaf, Taufik dan Bobby.
Seperti biasa, di kantin miliknya itu, Sonya sibuk mencuci piring dan gelas. Sementara asistennya yang baru bernama Sri Danarsih, ke luar mengantar makanan dan minuman, pesanan dari beberapa pegawai yang tempatnya bersebelahan dengan kantin.
Usai meneguk kopi, Klaranda, wartawati asal Provinsi Riau yang bertugas di Provinsi Antah Berantah, itu menyulut rokoknya. Asap yang disedot kemudian dilepaskannya melalui mulut dan hidungnya, secara bergantian.
Entah mengapa, kali ini suasana di warung Sonya, lengang. Klaranda dan rekan-rekannya, untuk beberapa saat, tak satu pun mengeluarkan kata-kata.
Di tengah kebisuan, tiba-tiba Galaxy muncul. Sebelum duduk, wartawan sekaligus Pemimpin Redaksi (Pemred) mingguan Antah Berantah Plus ini langsung memesan nasi ramas dan segelas teh es.
Sambil menunggu nasi dan minuman pesanannya, Galaxy membagi-bagikan koran Antah Berantah Plus kepada seluruh rekannya yang ada di kantin Sonya.
Sebagai Pemred sekaligus Pemimpin Umum, meskipun pendatang baru di dunia pers, belum sampai setengah tahun, Galaxy memang sangat bersemangat agar orang mengenal dirinya dan media cetak miliknya itu.
“Hmm. Baru terbit koranmu ini, Galaxy,” ujar Klaranda. Hanya sekedar basa-basi saja.
“Ya! Baru diantar ke kantor kami dari percetakan pada subuh tadi,” balas Galaxy.
Antah Berantah Plus memang belum memiliki percetakan sendiri. Masih menumpang cetak ke penerbit lain.
Klaranda kembali menyulut rokoknya dalam-dalam. Sementara Galaxy kemudian menuntaskan makan siangnya. Dia kemudian meneguk teh es.
Sesudah kenyang, Galaxy pun mengeluarkan suara.
“Dalam kehidupan ini, ada tiga karakter manusia,” ujar Galaxy dengan mata memandang ke arah Klaranda. Lagaknya seperti dosen yang lagi menerangkan mata kuliah di hadapan para mahasiswa.
Klaranda yang mendengar kata-kata Galaxy, lantas menatap lawan bicaranya itu dengan pandangan agak diselimuti tanda tanya.
“Hmm. Nampaknya kau sudah menjadi pakar atau psikolog, Galaxy,” kata Klaranda. “Tiga karakter manusia! Apa itu, Pak Pemred?” tanya Klaranda ingin tahu. Wanita ini mengibas rambut panjangnya.
Mendengar ucapan Klaranda yang menyebut “Pak Pemred” kepada dirinya, Galaxy merasa bangga.
“Pertama, ada kelompok manusia yang sifatnya selalu memberi solusi,” jawab Galaxy.
Prayudha yang mendengar ocehan Galaxy, langsung bertanya.
“Kau bicara begitu, dari mana sumbermu, Galaxy?” tanya Pra, sapaan akrab Prayudha.
“Dari Guru-ku!” Galaxy langsung menjawab, tanpa tedeng aling-aling.
“Terus?” desak si wartawati universallirik.com, Klaranda, kemudian.
“Kedua, ada manusia yang mampu memberikan solusi, tapi dia tidak mau tahu. Hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang yang begini, cenderung cari selamat, tak suka membantu,” papar Pak Pemred.
“Wah, nampaknya kau memang sudah menjadi psikolog kali ini,” tiba-tiba Bramantara menimpali, ikut nimbrung. Namun kata-kata Bram ini rada-rada berbau sindiran.
Bagi Galaxy, ucapan Bram tadi bukan masalah. Dirinya sama sekali tidak tersinggung. Dia tetap saja melanjutkan kata-katanya.
“Ketiga, ada orang setiap kali berinteraksi dengan sesama manusia, kehadirannya selalu membawa masalah. Kerjanya suka memaki-maki dan menyalahkan orang lain!” ujar Galaxy.
“Wah, betul juga omonganmu itu, Galaxy,” puji Klaranda.
“Ya, iyalah,” Galaxy langsung menjawab. “Di Republik Ilusi, khususnya Provinsi Antah Berantah, aku melihat, tipe manusia yang ketigalah, yang paling banyak,” ucap Galaxy.
Rekan-rekan Galaxy yang nangkring di warung Sonya, saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya, dari mana data Galaxy itu yang menuding bahwa rakyat Antah Berantah kebanyakan masuk ke katagori ketiga, yang artinya selalu membawa masalah, kerjanya suka memaki-maki dan menyalahkan orang lain?
“Untuk membuktikan omonganku, tidak sulit, kok. Lihat saja di media sosial. Banyak kata-kata makian di situ,” Galaxy mencoba meyakinkan rekan-rekannya.
“Ooo, begitu, ya, Galaxy. Kalau begitu, sungguh memperihatinkan, rakyat Antah Berantah,” mendadak Rakarada yang dari tadi hanya diam, ikut bersuara.
“Ya!” potong Galaxy.
Rakarada pun melanjutkan komentarnya.
“Jika begitu, sangat kontradiktif keadaannya dengan kami masyarakat Riau. Di negeri kami Bumi Lancang Kuning, hampir tidak ada karakter manusia seperti yang kaugambarkan pada katagori ketiga tadi. Kalau pun ada, paling hanya satu-dua orang.
“Itulah kelebihan negeri kalian,” balas Galaxy.
“Hampir seluruh rakyat Riau masuk ke dalam katagori pertama sebagaimana hipotesa-mu itu. Kami orang Riau marupakan kaum moralis. Bukan munafik. Jauh dari urusan caci-maki. Kami warga yang berbudaya. Makanya, kusarankan datang-datanglah ke kampung kami Riau, belajar, agar moral rakyat Antah Berantah bisa menjadi baik. Sehingga kemunafikan, kebohongan, culas, caci maki, pelan-pelan bisa diminimalisir!” kata Rakarada sejujur-jujurnya. “Jadi kalau ada orang yang menyebut salah seorang warga kami, misalnya, manusia tidak bermoral, itu penistaan, namanya. Harus diusut dan dijebloskan ke penjara!” tandas Pra.
Sekonnyong-konyong, Bramantara berdiri.
“Omonganmu kurang jelas maksudnya,” usik Bramantara.
“Kau sudah mendengar seluruh ucapanku,” Rakarada mencoba tegas.
“Ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka-ka. Ka-ka-ka-ka-ka-ka!” tawa Bram langsung menggelegar, dalam keadaan berdiri, di warung Sonya Si Janda Sintal itu. Tawa khas itu menirukan Popeye, salah satu tokoh dalam filem animasi, Popeye the Sailor Man.
“Husss! Bram!” tiba-tiba Klaranda berteriak, menghardik Bram dengan mata mendelik. Klara mencoba mengambil alih suasana agar kembali netral.
Entah mengapa, setiap kali Bram dibentak Klara, dia langsung diam. Bram kembali duduk di kursi, seperti pada posisi semula.
Dikutip dari Tabloid BOS (Bacaan Orang Sukses) edisi 330
7,862 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
