“Biarlah Daku di Pangkuan Ibuku Dulu, Opung”

Pekanbaru, Indonesia-Elisabet Oktavia sempat bengong, linglung begitu buah hatinya laki-laki yang baru saja dilahirkannya diambil begitu saja dari pangkuannya. Wanita ini tak tahu harus berkata apa. Dadanya terasa sakit. Yang dia tahu, saat kejadian itu dia hanya mampu meneteskan air mata.

Kejadiannya di Rumah Sakit Bhayangkara, Pekanbaru pada 16 Oktober 2021. Begitu Lisbet, nama panggilan sehari-hari Elisabet, melahirkan “jagoannya” itu pada 14 Oktober 2021.

“Saudari Nurbetti mengambil buah hatiku dari pangkuanku.” Ucapan ini dikutip dataprosa.com dari Darwin, seperti yang pernah disampaikan Lisbet kepada Penasihat Hukum-nya itu.

Elisabet juga pernah mengemukakan, dirinya dan suaminya tak mampu melakukan apa pun ketika buah hatinya diambil.

“Orang tua saya tidak beretika. Anak saya baru berumur 3 hari diambil paksa dari pelukan saya saat kondisi fisik saya belum stabil usai melahirkan,” kata  Elisabeth kepada wartawan saat dilakukan video call bersama suaminya James Silaban, usai sidang online di PN Pekanbaru, Kamis (21/10/21).

Dia menambahkan, pengambilan anaknya  yang baru berusia 3 hari dilakukan oleh orangtuanya, Lisbon Sirait, saat dirinya akan diantar ke Lapas Perempuan di Pekanbaru pada hari Sabtu, (16/10/21) pukul 13.00 WIB lalu.

“Saat itu kondisi saya sangat lemah pasca melahirkan,” ujarnya dengan linangan air mata.

James Silaban, suami Elisabet, yang ditahan di Rutan Sialang Bungkuk, Pekanbaru terkait kasus pemalsuan surat nikah, merasa sangat kecewa dan sedih dengan sikap mertuanya itu.

“Saya kecewa dan sedih, Bang. Kenapa mertua saya mengambil anak kami yang baru umur 3 hari. Mereka yang melaporkan kami berdua, kenapa mereka juga mengambil anak kami. Saya belum melihat buah hatiku seperti apa wajahnya,” ucap James sambil terisak-isak.

Dia melanjutkan, pada saat melahirkan itu, Ibu James yakni Delima Sinaga sendiri menemani Elisabet saat akan melahirkan. “Akan tetapi, Mama saya tidak bisa melihat cucunya sendiri,” sambungnya lagi.

James pun meminta keadilan kepada penegak hukum dan masyarakat.

“Tolong kembalikan anakku itu. Dia darah dagingku dan ingin melihatnya. Kepada penegak hukum, saya meminta keadilan untuk bisa melihat anak dan buah hati saya dengan Elisabet yang diambil paksa oleh mertua saya. Saya ingin melihat anak saya yang lahir ke dunia,” harapnya.

Penasihat Hukum James Silaban dan Elisabeth, Darwin Sinaga mengatakan, tindakan dari orangtua Elisabet merupakan pelanggaran hukum dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Ini sudah melanggar hukum dan melanggar HAM dan sudah memisahkan anak dari orang tua kandungnya sendiri,” ucap Darwin.

Menurut Darwin, anak yang baru berumur 3 hari, perlu mengonsumsi Air Susu Ibu (ASI) dan kasih sayang orangtuanya, namun diambil paksa.

Apakah memang diperlukan putusan pengadilan siapa atau pihak mana sebenarnya yang memiliki hak untuk mengasuh bayi yang dilahirkan Elisabet, itu soal lain.

Yang pasti, dalam melakukan pengambilan bayi yang baru dilahirkan itu dari pangkuan Elisabet, pria berpendidikan akademik S-2 bersama isterinya Nurbetti tentu tidak “asal ambil.”

Lisbon Sirait punya cara untuk dijadikan alat legitimasi mengambil cucunya. Kepada dataprosa.com Darwin menyebutkan, dalam pengambilan bayi tersebut, Lisbon membuat Surat Permohonan, yang salinannya dibaca dataprosa.com.

Surat Permohonan itu berjudul: “SURAT PERMOHONAN DAN TANDA TERIMA ANAK.” Frasa pada judul surat, seluruhnya dibuat dengan huruf kapital.

Terdiri dari dua lembar, Surat Permohonan ditulis tangan di atas kertas bermaterai Rp10 ribu. Ditandatangani Lisbon Sirait selaku Pihak I dan Nurbetti sebagai Pihak II, tertanggal 16 Oktober 2021.

Namanya saja Surat Permohonan, namun pada “Surat Permohonan dan Tanda Terima Anak” yang ditulis Lisbon, itu tidak ada kalimat kepada siapa atau pihak mana Permohonan itu ditujukan. Dengan kata lain, tidak ada penjelasan di Surat Permohonan itu kepada siapa Lisbon dan Nurbetti itu “bermohon.”

Di lembaran surat, pada poin 1, Lisbon dan Nurbetti menyebut, berdasarkan permintaan LP Pekanbaru tak bisa menerima anak Elisabet untuk turut ditahan dikarenakan kondisi Covid-19 di Lapas Perempuan Pekanbaru. “Kami pihak kesatu dan pihak kedua selaku ayah dan ibu kandung Elisabet menerima dan akan merawat bayi tsb (tersebut, red).” Begitu yang tertulis pada Surat Permohonan.

Seterusnya, di poin 2, tertulis, “Segala biaya mulai dari persalinan RS tanggal 14 Oktober 2021, jam 12.00 malam sampai dengan pengeluaran hari ini tanggal 16 Oktober 2021 di RS Bhayangkara Pekanbaru bersedia menanggung sebagaimana bayi Elisabet Oktavia ada pada kami, kami pihak satu dan dua bersedia untuk membiayai, merawat dan membesarkan.”

Itulah antara lain, apa yang tercatat di “Surat Permohonan dan Tanda Terima Anak” yang ditulis Lisbon. Dan di situ, tidak satu pun ada tanda tangan baik James maupun Elisabet yang melahirkan bayi yang diboyong itu.

Dan yang perlu diketahui, baik Lisbon maupun istrinya, merupakan orang jujur. Ini terungkap di surat itu juga, sebagaimana yang tercatat pada paragraf terakhir. “Demikianlah surat permohonan ini kami perbuat dengan sejujurnya dan tdk (tidak, red) ada paksaan dari pihak manapun.” Begitu yang tertulis.

Dalam membuat “Surat Permohonan dan Tanda Terima Anak” tadi, Lisbon dan Nurbertti melibatkan beberapa aparat untuk dijadikan saksi. Pada Surat tersebut tercatat sebagai saksi yang mengetahui, yang ikut menandatangani yakni Silviwanti, Gusnelly (JPU) dan Sartika Ratu Ayu (JPU).

Jadi, dengan modal “Surat Permohonan dan Tanda Terima Anak” yang dibuat untuk dijadikan legitimasi versi Lisbon Sirait, Nurbetti pun aman-aman saja, bisa melenggang mengambil cucunya dari pangkuan putrinya Elisabet.

***

Tapi Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, memberikan penjelasan lain.

Menurutnya, di dalam hukum Perlindungan Anak (PA), untuk mengasuh anak harus diketahui kedua orang tua kandung.

”Tidak ada dasarnya Kakek dan Nenek mengambil bayi dan menutup akses dari orang tua kandung si bayi. Apalagi, si bayi diambil baru berumur 3 hari,” ujar doktor psikologi yang akrab disapa Kak Seto itu saat dihubungi awak media dari Pekanbaru melalui ponsel, Kamis (28/10-2021).

Dia menilai, jika orang tua kandung tidak mengetahui (tanpa izin) anak mereka diambil paksa oleh Kakek dan Neneknya, hal tersebut sudah masuk Pelanggaran Hukum dan Perdagangan Anak. Sekali pun yang mengambil bayi itu Kakek dan Nenek si Bayi.

Saat diwawancarai itu Kak Seto kemudian mengemukakan, dirinya akan menghububgi Ketua LPAI Riau bernama Esther untuk mempertemukan keluarga dari pihak si Ibu guna melakukan mediasi. Agar orang tua si Bayi dapat melihat buah hati mereka.

“Karena hak asuh anak itu adalah orang tua kandungnya. Bukan Kakek dan Neneknya. Jika tidak ada iktikad baik, kami (LPAI) meminta kepada Polda Riau untuk mengambil tindakan agar orang tua kandung si Bayi dapat melihat buah hati mereka kembali,” ucapnya.

Meskipun Kakek atau Nenek beralasan sudah membayar semua biaya rumah sakit dan biaya persalinan, Kakek atau Nenek, sambung Kak Seto, tidak boleh mengambil si Bayi dari orang tua kandungnya. Tidak ada alasan Kakek-Nenek mengambil hak anak.

“Terakhir, saya meminta dan berharap penegak hukum di Provinsi Riau dapat mengembalikan si Bayi ke pelukan orang tua kandungnya,” sebut Kak Seto.

Tapi pada dasarnya, Darwin Penasihat Hukum James-Elisabet sebelumnya sudah melaporkan peristiwa tersebut ke Polda Riau. Tapi laporannya belum ditanggapi.

Darwin berharap, agar institusi Kepolisian khususnya Polda Riau serius dalam menyikapi laporan yang sudah disampaikannya itu. Sebab hingga saat berita ini tayang, tambah Darwin, dirinya selaku Kuasa Hukum dari orang tua bayi itu belum mengetahui kepastian di mana bayi tersebut berada.

“Setelah mendapat Surat kuasa terkait penanganan permasalahan Bayi dari klien kita, pada hari Jum’at, 22 Oktober 2021, saya langsung ke SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polda Riau untuk membuat Laporan Pengaduan. Akan tetapi pihak SPKT Polda Riau menganjurkan agar laporan tersebut dibuat tertulis. Sehingga pada hari senin 25 Oktober 2021, Surat tersebut kita tujukan kepada Bapak Direktur Kriminal Umum Polda Riau. Sebab perbuatan L Sirait itu berpotensi pidana,” tandas Darwin.

***

Kisah perjalanan cinta dua anak manusia bernama James Silaban (27) dan Elisabet Oktavia (29) memang diwarnai dinamika romantika dan duka.

Atau dengan bahasa lain, di samping dipenuhi dengan bunga-bunga cinta, jalinan asmara James-Elisabet itu juga tak luput dari “badai’ dan air mata.

Sistem dalam hukum yang berlaku di negeri ini, menikah gara-gara tak disetujui orang tua, bisa berakibat fatal, memang. Pasangan yang pernah menjadi Anak Buah Kapal (ABK) dan sarjana akuntansi itu, apa boleh buat, harus rela menjalani proses hukum seperti yang mereka hadapi kini dan siap-siap kemungkinan di-vonis hukuman penjara.

Dari sisi duka, rongrongan yang menghantam kedua insan itu bahkan seperti tak habis-habisnya, mulai dari masa-masa pacaran hingga lahirnya anak lelaki mereka di Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, pada Sabtu, 14 Oktober 2021 lalu. Lalu, usai melahirkan, pada 16 Oktober 2021 buah hati pasangan suami istri (Pasutri) itu langsung diambil paksa dari dekapan Elisabet oleh ibunya sendiri, bernama Nurbetti yang bermukim di Jakarta. James pun, sebagaimana pernyataannya kepada wartawan, sama sekali belum melihat putranya yang baru lahir itu.

Kini, James dan istrinya Elisabet yang biasa disapa Lisbet, berada di rumah tahanan (Rutan), Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Pasutri itu tengah menjalani proses hukum di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pekanbaru. Selain itu, turut juga menjalani persidangan di sana, yakni Vintor Harianja, yang dituding melakukan pemalsuan tanda tangan Lisbon Sirait, orang tua Lisbet. Kedua orang tua Elisabet tidak setuju dirinya menikah dengan James.

Miris, memang. Rongrongan dan badai yang menimpa Pasutri itu, justru muncul dari pihak keluarga. Bukan datang dari siapa-siapa.

***

Romantika cinta James dan Lisbet itu dimulai di Kota Metropolitan, Jakarta, 2019 hingga 2020. Keduanya sama-sama bermukim di Ibu Kota Negara.

Istri James itu sebelum menikah, sempat tinggal di kediaman Namboru (Bibi dari pihak Bapa, red), di Medan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Pada 12 Desember 2020, dia kabur dari tempat Namboru-nya, lalu menikah dengan James di Kota Pekanbaru, 21 Desember 2020. Si pengantin pria sendiri saat itu baru berkuliah di salah satu perguruan tinggi, semester pertama, di Jakarta.

Elisabet merupakan putri tertua dari seorang ayah yang kini menduduki jabatan yang cukup strategis di Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI) di Jakarta. Sementara James? Disebut-sebut sebagai putra dari keluarga yang status sosialnya berada di “level bawah.”

Seperti yang sudah disebutkan, Lisbet merupakan wanita berpendidikan akademik. Relatif cantik.

Dari pengamatan dataprosa.com, James bisa dikatakan tidak juga berlatar belakang dari keluarga yang miskin-miskin amat. Selain itu, menurut pengamatan versi wartawan dataprosa.com langsung terhadap sosok pria itu sebelum mendekam di Rutan, James tergolong pria relatif ganteng. Ketampanan pria yang satu ini, mirip-mirip perpaduan gagahnya artis India bernama Shah Rhuk Khan dan Marlon Brando aktor Amerika Serikat, saat keduanya masih muda. Bahkan, James memiliki wajah yang cenderung baby face (imut-imut), ketimbang usianya yang sudah lebih 27 tahun, jika diamati sebelum dia ditahan. 

Lantas, benar, nggak, sih, James itu masuk kategori cowok ganteng?

Pertanyaan itu dijawab istrinya dengan bahasa yang tidak begitu tegas.

“Ganteng juga, sih,” jawab Elisabet dengan logat Jakarta yang kental, kepada dataprosa.com, di kediaman ayah angkatnya Vintor Harianja, di Pekanbaru, saat istri James itu belum berada di Rutan.

Elisabet memang lahir dan besar di Jakarta.

Jadi, meski saling suka, lalu, apa sih yang diharapkan Elisabet dari James?

“Berani bertanggung jawab. Walaupun statusnya masih mahasiswa, tapi James berani membuktikan kalau dia mampu bertanggung jawab menghidupi rumah tangga,” ucap Elisabet.

Tapi, Lisbet juga tak lupa menekankan, dalam kehidupan rumah tangga, kegantengan itu tidaklah cukup.

Diam-diam, rupa-rupanya, dari pernyataan Elisabet, istri James itu termasuk seorang wanita pengagum sosok ayah. Dari sinilah terlihat, salah satu di antaranya bagaimana dia sampai mencintai James.

“Saya mengagumi figur ayah saya. Dan figur itu saya lihat ada pada James. Sayalah yang tahu sifat ayah saya,” tambah Elisabet. Wah, wah, wah!

Tak hanya itu, selama ini Elisabet hidup di lingkungan keluarga yang relijius. Kedua orang tuanya juga menganjurkan pola makan sehat dan berolah raga.

Lisbet kemudian mencontohkan, bagaimana sosok ayah yang dikaguminya itu. Dia menuturkan, ayahnya sangat disiplin waktu. Misalnya, agar anaknya bangun pagi kira-kira pukul 5 dan berolah raga. “Rajin berdoa, makan makanan yang sehat,” sebut Elisabet kepada dataprosa.com, mengulangi apa yang pernah disampaikan ayahnya kepada dirinya.

Jadi, hasil dari penerapan disiplin waktu yang ketat oleh orang tua terhadap dirinya, tak heran kalau Lisbet berhasil menyelesaikan pendidikan akademik hingga Strata (S) 1 di bidang akuntansi.

*****

Sudah sejak awal-awalnya, memang, kedua orang tua Lisbet tak sudi jika bermenantukan orang macam James. Sementara, baik James maupun Elisabet sudah saling mencintai, sebagaimana penuturan mereka kepada dataprosa.com, di Pekanbaru, sebelum keduanya ditetapkan menjadi tersangka oleh penyidik Kepolisian Daerah (Polda) Provinsi Riau.

Dengan munculnya badai yang menyerang asmara kedua insan, otomatis, acara masa-masa selama wajib kunjung pacar (Wakuncar) antara James dan Elisabet pun berlangsung back street (rahasia).

Lalu, apakah hanya pihak orang tua Lisbet saja yang tak setuju atas hubungan mereka?

Ternyata, tidak!

Ibu James bernama Delima Sinaga (52) jauh-jauh hari sudah mewanti-wanti, agar putra sulungnya itu tidak berhubungan dengan Lisbet. Dia meminta agar James mencari wanita lain. Delima menyadari, ada kesenjangan status sosial antara keluarga pihak dirinya dengan Lisbet.

“Kita orang miskin, Nak,” begitu kata-kata yang pernah dilontarkan Delima kepada James, sebagaimana yang disampaikannya juga kepada dataprosa.com, Kamis (21/10-2021) lalu, di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, saat mengikuti persidangan anaknya James dan menantunya Elisabet Oktavia serta Vintor Harianja selaku bapak angkat pasangan James-Elisabet.

Tapi, apalah daya bagi Delima, seorang janda. Dia sudah berupaya keras mengingatkan putra tertuanya yang ganteng itu dalam berhubungan dengan Lisbet yang kini sudah menjadi menantunya. Sebagai anak ni amana (anak seorang Bapa), James terus saja memepet ke mana pun Lisbet berada.

Tak hanya sampai di situ. Larangan itu rupanya tidak hanya dilakukan oleh Delima saja. Adik kandung Delima, yakni Darwin Natalis Sinaga selaku Tulang (paman dari pihak ibu) James, sudah sampai turun tangan memperingati sang bere (keponakan) untuk tidak berhubungan dengan Lisbet, seperti yang dikemukakan Darwin kepada dataprosa.com, di Pekanbaru, belum lama ini. Tapi meski selaku bere, James tidak peduli dengan omongan Tulang-nya, yang juga sekaligus bertindak selaku Advokat, Penasihat Hukum dari Vintor Harianja dan Pasutri James-Elisabet. Darwin yang selama menangani perkara keponakannya yang sempat disebut-sebut sebagai “pengacara abal-abal” itu kepada dataprosa.com menyebutkan, dirinya sudah berkali-kali memberi peringatan kepada James. Tapi, James tetap saja berhubungan dengan Lisbet di “belakang,” seperti penuturan Darwin kepada dataprosa.com. Akibatnya, Darwin yang juga merupakan salah satu yang sudah pernah menjalani Pelatihan Penyuluh pada Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (KPK RI) itu pontang-panting juga selaku Penasihat Hukum dalam mendampingi Vintor, James dan Elisabet.

Ternyata hantaman terhadap kisah kasih pasangan yang terbuai asmara itu tidak hanya menyerang saat-saat indah di masa sebelum menikah saja. Tapi juga mengalami gempuran begitu usai menjalani acara pemberkatan yang berlangsung di kediaman Vintor Harianja, yang dilakukan oleh pihak salah satu gereja Protestan di Pekanbaru. 

James-Elisabet menjalani acara pemberkatan pernikahan oleh pihak gereja Protestan di Pekanbaru pada 21 Desember 2020, sebagai syarat sahnya pernikahan menurut agama Kristen seperti yang dianut pasangan itu.

Namun beberapa hari sesudah pemberkatan, pada satu malam, ada beberapa orang yang mendatangi kediaman pendeta yang juga berlokasi di lingkungan gereja tersebut, meminta agar pernikahan James-Elisabet dibatalkan.

Pendeta yang tidak ingin disebut nama dan gereja-nya itu yang pernah dihubungi dataprosa.com dan wartawan lainnya, membenarkan bahwa pihaknya memang pernah didatangi sekawanan orang pada malam hari. Kepada wartawan, Pendeta tidak menjelaskan, siapa-siapa saja yang mendatanginya itu. Tapi, ungkap Pendeta, mereka menginginkan agar pernikahan James dan Elisabet, dibatalkan.

Keinginan orang-orang tersebut ditolak oleh Pendeta. Dengan alasan, “Mereka yang telah disatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.”

Dari penelusuran dataprosa.com, apa yang diucapkan Pendeta itu tadi, tercatat di Injil Perjanjian Baru, Matius 19 : 6, yaitu: “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ayat ini yang menjadi dasar bagi Pendeta untuk menolak pembatalan pernikahan itu.

Selanjutnya, tekanan atas perkawinan James-Elisabet kian menjulang ke puncak. Kini, melalui jalur hukum. Vintor Harianja dilaporkan oleh seseorang bernama Tuah Abel Sirait.

Vintor dilaporkan ke polisi atas dugaan tindak pidana pemalsuan tanda tangan Lisbon Sirait, ayah Lisbet yang kini menjabat Direktur Sistem Penganggaran, Direktorat Jenderal (Dirjen) Perbendaharaan, Kementerian Keuangan.

Usai acara pemberkatan, pria kelahiran Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) itu dituding memalsukan tanda tangan Lisbon. Pada laporan tersebut, Vintor dilaporkan memalsukan tanda tangan Lisbon pada Surat Partumpolon (pernyataan) yang dikeluarkan pihak gereja. Pada Surat Partumpolon itu tercantum tanda tangan Vintor Harianja yang bertindak sebagai wali, bukan tanda tangan Lisbon Sirait yang merupakan ayah Elisabet, penduduk Jakarta.

Oleh pihak penyidik, Vintor yang diduga memalsukan tanda tangan Lisbon itu diancam hukuman dengan pasal 263 KUH Pidana.

Lantas, kepada dataprosa.com Darwin menjelaskan, berdasarkan surat perpanjangan penahanan yang dikeluarkan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau nomor B-2523/L.4.1./Eku.1/08/2021 tanggal 19 Agustus 2021 terhadap Vintor dan James bahwa pelapornya adalah Nurbetti.

Kemudian, berdasarkan surat dakwaan JPU No. Reg. Perk: PDM. 162/PKU/09/2021 tanggal 22 September 2021 pelapornya adalah Lisbon Sirait.

Vintor bukanlah kerabat Lisbet, memang. Juga bukan marga Sirait. Tapi bagaimana sampai pria malang ini berani-beraninya bertindak sebagai wali, membubuhkan tanda tangan di Surat Partumpolon Pemberkatan Pernikahan James-Elisabet di atas dokumen yang sudah tersedia itu?

Kepada dataprosa.com Vintor pernah bilang, karena faktor kemanusiaan. Sebab dari penjelasan Lisbet kepada dirinya, perkawinan harus segera dilaksanakan atas permintaan James-Elisabet, karena sudah “mendesak.” Bahkan permohonan itu tidak hanya dalam kata-kata belaka, namun dilengkapi dengan Surat Pernyataan.

Elisabet juga menjelaskan, kalau rencana pernikahan sampai diketahui para kerabatnya, kemudian diteruskan kepada orang tuanya, menurut Lisbet pernikahan bakal gagal, mengingat pengalaman yang pernah dialaminya sebelumnya.

Beberapa waktu lalu, sebagaimana Elisabet mengisahkan kepada dataprosa.com, sebelum menjalani pemberkatan pernikahan, dirinya sudah melakukan berbagai upaya agar ada kerabatnya yang mau bertindak sebagai wali nikah. Tapi tak ada satu pun yang bersedia. Lisbet sudah menghubungi para kerabat mulai dari Jakarta, Medan dan Porsea, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk menjadi wali atas pernikahannya dengan James, tapi tak satu pun yang sudi, kata Lisbet.

Sebelum menikah, Lisbet tinggal di rumah orang tuanya, pasangan Sirait dengan Boru Siburian. Lisbet menyebutkan, ayahnya adalah putera dari pasangan Sirait dan Boru Sinurat.

Lantas, Lisbet dan James kemudian muncul ke Pekanbaru, Provinsi Riau. Lisbet dengan air mata berlinang datang bersama James menemui Vintor di kediamannya, minta tolong untuk menjadi wali pada pernikahan mereka.

Akhirnya, dengan segala risikonya, Vintor pun menyatakan siap menjadi wali dalam pemberkatan pernikahan James-Lisbet oleh pihak gereja, setelah Elisabet menyerahkan Surat Pernyataan bahwa dirinya yang meminta dan bertanggungjawab agar Vintor Harianja menjadi wali nikahnya.

Hingga berita ini tayang, sidang atas perkara Vintor, James dan Lisbet tengah berjalan. Sudah berlangsung 4 kali secara virtual. Terakhir, pada Kamis, 28 Oktober 2021. Dari sidang yang tengah berjalan itu Vintor Harianja beberapa kali sempat mengajukan agar dirinya hadir secara tatap muka dalam persidangan. Namun hingga berita ini tayang, belum terealisasi.

Lalu, tiba-tiba saja ada serangan yang berbahaya, kemudian timbul. Belakangan, kuat indikasi ada “makhluk penyusup” yang muncul, yang bisa saja merenggut nyawa manusia. “Penyusup” itu mampu menembus tembok-tembok di Rutan. Entah mengapa, dari antara para tahanan yang ada di Rutan, itu yang menjadi target “penyusup” antara lain Vintor Harianja. Makhluk yang tak memiliki otak sebagaimana manusia, itu sama sekali tidak “mengganggu” James maupun Lisbet, hingga berita ini tayang. Lantas, makhluk apa “penyusup” itu, kemudian terungkap di persidangan pada Kamis, 28 Oktober 2021 tadi. Namanya: Virus Corona?

Darwin Sinaga Penasihat Hukum ketiga terdakwa Vintor, James dan Elisabet menyampaikan kepada dataprosa.com bahwa menurut pernyataan salah seorang jaksa di persidangan yang berlangsung secara daring dan luring, Kamis, 28 Oktober 2021 itu terdakwa Vintor Harianja sudah “reaktif.”

Rencananya, sidang akan berlanjut besok, Rabu (3/11-2021). Agendanya, mendengar keterangan para saksi. ramses lumban gaol
*****

1,573 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia