Mafia Tanah Diduga Obok-Obok Lahan Kaplingan GKPN Rimbo Panjang

Riau, Indonesia-Kira-kira sejak 1985 lalu, sejumlah masyarakat yang terdiri dari para aparat (pensiunan) TNI-Polri, sebagian dosen dan sejumlah Aparatur Sipil Negara (pensiunan) serta masyarakat umum, membeli lahan kavlingan melalui Gabungan Koperasi Pegawai Negeri (GKPN) Unit 3.

Pembelian lahan kavlingan oleh warga dilakukan berdasarkan Akta Jual Beli dengan Burhan Yunus selaku Ketua GKPN.

Tanah kavlingan yang dibeli dengan cara menyicil itu berlokasi di RT 02/RW 02, Dusun 3, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau seluas 170 hektare ditambah fasilitas umum 6 hektare yang seluruhnya 3.548 kapling.

Jual beli berlangsung sejak 1985 hingga 1989 yang dicicil selama 40 bulan. Akta Jual Beli ditandatangani Camat Kampar pada 1989.

Mereka yang membeli lahan dengan cara menyicil tersebut di antaranya terdiri dari nama-nama beken di Riau. Mulai dari Muchtar Lutfi, Sam Rikardo, Sentot Prayitno, Erianti, Agus Suryono, Mukio, Bintal Amin, Bosman Saleh, Salohot dan lain-lain.

Lalu, masalah kemudian muncul. Mafia tanah pun “bermain.” Persoalan tanah yang dicicili oleh para ASN dan aparat (pensiunan) TNI-Polri serta masyarakat lainnya itu pun hingga kini masih bergejolak. 

Sekretaris Perkumpulan Pemilik Kavlingan (PPK), Desa Rimbo Panjang bernama Elvis kepada dataprosa.com di Pekanbaru, Jumat (13/12-2021) menjelaskan, pada 2017 saat Jefry Noer selaku Bupati Kampar, Camat Tambang waktu itu bernama Mulatua “terpaksa” menandatangani SKGR tanah atas nama dua perusahaan di antaranya PT Tata Rajawali Global (TRG), di atas lahan seluas 72 hektare.

Yang mengatakan bahwa Mulatua selaku Camat waktu itu “terpaksa” menandatangani, yakni Mulatua sendiri kepada Elvis.

Padahal, sebagaimana dikemukakan Elvis kepada dataprosa.com, sebelum Mulatua menandatangani SKGR atas nama dua perusahaan tadi, Camat sudah memanggil para pemilik lahan ke kantor camat agar membawa surat tanah yang asli keabsahan kepemilikan lahan. Mulatua kemudian mengakui surat tanah seluas 72 hektare yang berada di RT 02/RW 03, Dusun 3, Desa Rimbo Panjang adalah sah.

Elvis memaparkan, Surat Tanah seluas 72 hektare itu dikeluarkan oleh Desa Tarai Bangun yang sampai sekarang tapal batas antara Desa Rimbo Panjang dengan Tarai Bangun, Kecamatan Tambang adalah anak sungai yang membelah batas kota, batas Kampar dengan Kota Pekanbaru. Hal itu, kata Elvis, mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 1987 Tentang Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Pekanbaru dan Kabupaten Daerah Tingkat II Kampar. red

1,102 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia