Proses Lelang Pengadaan Batu Bara di PLN Batam Terbirit-birit

Ganda Mora.

Pekanbaru, Indonesia-Proses lelang pengadaan bahan baku batu bara yang diadakan pihak PT Pelayanan Listrik Nasional (PLN) Batam berlangsung sangat terburu-buru.

Ketua Umum Lembaga Independen Pembawa Suara Pemberantas Korupsi, Kolusi, Kriminal Ekonomi Republik Indonesia (IPSPK3-RI) Ganda Mora menyampaikan hal itu kepada wartawan, Senin (15/2-2021) di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Akibatnya, menurut Ganda Mora, proses lelang tersebut menimbulkan kontroversi.

Sebagaimana diketahui, pihak PT PLN Batam mengadakan pelelangan terbuka Pengadaan Batu Bara Tahunan untuk PLTU Tanjung Kasam, di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Hal itu dapat dilihat dari Pengumuman Prakualifikasi Pengadaan Batu Bara Tahunan untuk PLTU Tanjung Kasam Nomor: 010.Pmg/DAN.02.01/PROM/2021 tertanggal 9 Februari 2021 yang dikeluarkan Procurement Management,
PT Pelayanan Listrik Nasional (PT PLN) Batam.

Di Pengumuman itu tercatat, pendaftaran dan download dokumen kualifikasi dilakukan melalui web e-procurement PLN (eproc.pln.co.id). Untuk hari Selasa, 9 Februari 2021 dimulai pukul 14.00-16.00 WIB. Pada 10-11 Februari 2021 dimulai pukul 08.00-16.00 WIB dan Senin, 15 Februari 2021 ditutup pada pukul 14.00 WIB.

Ganda Mora menekankan, proses pendaftaran tender diadakan pada 9 Februari 2021, kemudian ditutup pada 15 Februari 2021 pada pukul 14. 00 WIB. Sementara tanggal 12 Februari adalah libur nasional Hari Raya Imlek. Lalu, tanggal 13 hari Sabtu dan 14 Februari hari Minggu.

“Itu artinya, waktu yang diberikan terhadap rekanan hanya 3 hari saja. Sedangkan untuk membuat uji spek ke scofindo atau geosevice butuh waktu 7 sampai 10 hari. Sehingga kontraktor baru, yang ingin menjadi rekanan, tidak akan cukup waktu untuk mempersiapkan semua persyaratan,” ujarnya.

Melihat keadaan itu, Ganda Mora sangat menyayangkan dan mengkritisi proses lelang tersebut yang dilakukan secara terburu–buru. Sehingga memunculkan dugaan adanya pengaturan pemenang lelang.

“Pengkondisian tersebut terkesan memberikan peluang seluas-luasnya untuk rekanan lama dan menutup kemungkinan bagi rekanan yang baru. Yang mengakibatkan peluang bagi rekanan lokal akan tidak dapat sebagai supplier batu bara ke PLN,” ujar Ganda Mora.

Dia kembali menegaskan, rekanan baru tidak akan cukup waktu untuk melakukan persyaratan e-procurement.

“Kami ingin Panitia Lelang Perusahaan BUMN milik negara tersebut lebih transparan dan terbuka dan memberikan peluang terhadap rekanan. Dan memenangkan pihak yang lebih menguntungkan dan profesional. Untuk mendapatkan kontraktor yang lebih siap dan profesional,” tandasnya.

Ketua Umum Lembaga IPSPK3-RI itu menyarankan, agar pimpinan PT PLN Batam memperpanjang waktu pelelangan bahan baku batu bara tersebut agar PLN dapat menetapkan kontraktor yang lebih siap, efektif, berpengalaman dan profesional.

“Kami sebagai pengawal kinerja pemerintah mendengar dan harus menyampaikan masalah ini agar pihak kontraktor yang merasa ‘disingkirkan’ dapat ikut serta dalam proses lelang dengan waktu yang cukup sehingga PT PLN yang merupakan perusahaan milik negara tersebut transparan, akuntabel dan profesional,” pungkasnya. dp-01

197 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia
en_USEnglish id_IDBahasa Indonesia